Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Kemiskinan Garut Turun, Tantangan Belum Berakhir

Kemiskinan Garut Turun, Tantangan Belum Berakhir

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
  • visibility 18
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAHKemiskinan Garut 2025 kembali menunjukkan perbaikan. Namun, ada satu fakta yang tak boleh luput dari perhatian. Di balik turunnya jumlah penduduk miskin, biaya hidup justru terus meningkat. Artinya, semakin banyak keluarga harus bekerja lebih keras agar tidak kembali terjerumus ke bawah garis kemiskinan.

Data terbaru yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Garut dalam Kabupaten Garut Dalam Angka 2026 memperlihatkan persentase penduduk miskin turun menjadi 9,39 persen pada 2025. Jumlahnya mencapai sekitar 252,56 ribu jiwa, lebih rendah dibandingkan 2024 yang masih 259,30 ribu jiwa atau 9,68 persen. Di sisi lain, garis kemiskinan Garut naik menjadi Rp407.191 per kapita per bulan, tertinggi dalam sembilan tahun terakhir.

Sekilas, angka tersebut memberi kabar menggembirakan. Namun jika dibaca lebih dalam, data BPS justru mengingatkan bahwa perjuangan mengurangi kemiskinan Garut 2025 belum selesai. Penurunan jumlah penduduk miskin belum otomatis berarti seluruh masyarakat menikmati peningkatan kesejahteraan.

Lebih Sedikit Warga Miskin, Tetapi Beban Hidup Makin Berat

Setiap tahun, BPS menetapkan garis kemiskinan sebagai batas minimum pengeluaran seseorang untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan nonmakanan. Pada 2025, batas tersebut naik dari Rp393.464 menjadi Rp407.191 per kapita per bulan.

Kenaikan ini menunjukkan satu kenyataan sederhana: kebutuhan hidup semakin mahal.

Di tengah kenaikan biaya tersebut, jumlah penduduk miskin memang berhasil berkurang sekitar 6.740 jiwa dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian ini patut diapresiasi karena menandakan adanya perbaikan dibandingkan masa pandemi, ketika angka kemiskinan sempat meningkat.

Meski demikian, lebih dari 252 ribu warga Garut masih hidup di bawah garis kemiskinan. Jumlah tersebut setara dengan populasi sebuah kota berukuran sedang. Fakta ini menunjukkan bahwa pengurangan kemiskinan masih membutuhkan kerja yang konsisten, terutama melalui penciptaan lapangan kerja produktif dan peningkatan pendapatan masyarakat.

Data BPS Mengungkap Tantangan yang Belum Terlihat

Jumlah penduduk miskin bukan satu-satunya indikator yang perlu diperhatikan. BPS juga mengukur Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) untuk melihat kondisi masyarakat miskin secara lebih rinci.

Pada 2025, Indeks Kedalaman Kemiskinan turun tipis menjadi 1,38 dari 1,41 pada 2024. Penurunan ini mengindikasikan rata-rata pengeluaran penduduk miskin mulai mendekati garis kemiskinan.

Namun, Indeks Keparahan Kemiskinan justru naik dari 0,29 menjadi 0,34. Angka tersebut menunjukkan kesenjangan di antara kelompok masyarakat miskin masih cukup lebar. Sebagian keluarga berhasil membaik, tetapi sebagian lainnya masih tertinggal jauh.

Karena itu, keberhasilan menurunkan angka kemiskinan tidak cukup dinilai dari berkurangnya jumlah penduduk miskin. Pemerintah juga perlu memastikan kelompok paling rentan memperoleh akses terhadap pekerjaan, pendidikan, layanan kesehatan, dan perlindungan sosial.

Kecamatan Mana yang Harus Menjadi Prioritas?

Pertanyaan ini kerap muncul setiap kali data kemiskinan dipublikasikan.

Sayangnya, publikasi Kabupaten Garut Dalam Angka 2026 tidak menyajikan data kemiskinan hingga tingkat kecamatan. Data yang tersedia masih berupa gambaran kondisi Kabupaten Garut secara keseluruhan.

Artinya, tidak tepat menyebut kecamatan tertentu sebagai wilayah termiskin hanya berdasarkan publikasi ini.

Justru di sinilah pentingnya pemanfaatan data yang lebih rinci, seperti Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), Regsosek, serta data desa yang dimiliki pemerintah daerah. Melalui data mikro tersebut, program bantuan sosial, pemberdayaan ekonomi, maupun penciptaan lapangan kerja dapat diarahkan kepada wilayah yang benar-benar membutuhkan.

Pendekatan berbasis data akan membuat setiap rupiah anggaran lebih efektif sekaligus mempercepat penurunan kemiskinan secara berkelanjutan.

IPM Meningkat, Modal Besar Mengurangi Kemiskinan

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Kabupaten Garut juga memperoleh sinyal positif dari sisi pembangunan manusia.

BPS mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) naik dari 69,91 pada 2024 menjadi 70,67 pada 2025. Peningkatan itu didukung oleh membaiknya usia harapan hidup, harapan lama sekolah, rata-rata lama sekolah, hingga meningkatnya pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan menjadi Rp9,479 juta.

Perbaikan kualitas sumber daya manusia menjadi modal penting untuk menekan angka kemiskinan Garut dalam jangka panjang. Namun, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan perlu berjalan seiring dengan terbukanya peluang usaha dan lapangan kerja. Tanpa pertumbuhan ekonomi yang inklusif, manfaat pembangunan tidak akan dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat.

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan bukan sekadar membuat statistik terlihat lebih baik. Yang lebih penting adalah memastikan semakin banyak keluarga mampu memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa terus dihantui risiko kembali jatuh ke jurang kemiskinan.

Data BPS menunjukkan angka kemiskinan Garut terus bergerak turun. Kini, tantangan berikutnya bukan hanya mengurangi jumlah penduduk miskin, melainkan memastikan setiap keluarga memiliki kesempatan yang sama untuk hidup lebih layak. Sebab, keberhasilan pembangunan baru benar-benar terasa ketika kesejahteraan hadir di meja makan, ruang belajar anak, dan masa depan setiap rumah tangga. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi kasus korupsi dan peran SPIP dalam pengawasan keuangan pemerintah

    Kenapa Korupsi Masih Terjadi? Padahal Ada Sistem SPIP

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 182
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – SPIP atau Sistem Pengendalian Intern Pemerintah kembali disorot setelah berbagai kasus korupsi mencuat. Sistem pengendalian intern pemerintah ini sebenarnya dirancang untuk menjaga transparansi, mencegah penyimpangan, dan memastikan anggaran digunakan secara tepat. Namun, muncul pertanyaan besar: jika SPIP sudah ada, kenapa korupsi masih terjadi? Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008, pemerintah telah […]

  • Nabi Ayub AS

    Refleksi Harian dari Kisah Nabi Ayub AS

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 150
    • 0Komentar

    Kisah Nabi Ayub AS mengajarkan keteguhan iman saat kehilangan harta, keluarga, dan kesehatan. albadarpost.com, OPINI – Hidup modern bergerak cepat, tetapi rapuh. Krisis kesehatan, tekanan ekonomi, dan permasalahan sosial bisa datang tanpa aba-aba. Dalam situasi seperti ini, kisah Nabi Ayub AS tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Ia hadir sebagai cermin harian tentang bagaimana manusia […]

  • Pengawasan Wajib Pajak

    DJP Ubah Cara Awasi Wajib Pajak, Ini Aturan Terbarunya

    • calendar_month Minggu, 19 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 37
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Pengawasan wajib pajak memasuki babak baru. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) resmi menerapkan pedoman terbaru melalui Surat Edaran (SE) Nomor SE-8/PJ/2026 tentang Pedoman Pengawasan Kepatuhan Wajib Pajak. Aturan ini mengubah pendekatan pengawasan pajak dengan mengombinasikan pengumpulan data di lapangan dan pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung kepatuhan perpajakan. Melalui pedoman tersebut, DJP menjelaskan […]

  • bawaslu-tasikmalaya

    Bawaslu Tasikmalaya Terkendala Bukti dan Saksi

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 53
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Bawaslu Tasikmalaya mengungkap kendala utama dalam menangani pelanggaran pemilu Tasikmalaya, yakni minimnya bukti dan saksi yang bersedia memberikan keterangan. Kondisi tersebut membuat sejumlah laporan maupun temuan dugaan pelanggaran tidak dapat diproses hingga tahap penindakan meskipun indikasi awal telah ditemukan. Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat (Parmas), dan Hubungan Masyarakat Bawaslu Kota Tasikmalaya, Enceng […]

  • Motor Kembali

    Tangis Haru di Mapolres Tasikmalaya, Motor Hilang Akhirnya Pulang

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 114
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — Suasana haru menyelimuti Mapolres Tasikmalaya, Senin (1/6/2026), ketika dua unit sepeda motor hasil curanmor akhirnya kembali ke tangan pemiliknya. Bagi sebagian orang, kendaraan itu mungkin hanya benda mati. Namun bagi para korban, motor tersebut adalah bagian penting dari kehidupan sehari-hari yang sempat hilang selama berbulan-bulan. Dua kendaraan yang diserahkan langsung oleh […]

  • Perkedel kentang lembut dan gurih dengan warna keemasan, tampilan rapi dan tidak hancur saat disajikan

    Anti Gagal! Rahasia Membuat Perkedel yang Tidak Pernah Hancur

    • calendar_month Minggu, 22 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 192
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Pertama, banyak orang langsung menggoreng tanpa memahami tekstur adonan. Akibatnya, perkedel mudah pecah saat terkena minyak panas. Selain itu, kentang yang terlalu basah sering membuat adonan sulit dibentuk. Selanjutnya, penggunaan telur yang tidak tepat juga sering memicu kegagalan. Terlalu banyak telur membuat adonan lembek, sedangkan terlalu sedikit membuatnya rapuh. Oleh karena itu, […]

expand_less