Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Merasa Paling Benar: Penyakit Hati yang Sulit Disadari

Merasa Paling Benar: Penyakit Hati yang Sulit Disadari

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 8 jam yang lalu
  • visibility 22
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Ada bentuk sombong dalam Islam yang tidak terlihat dari pakaian mahal atau kebiasaan memamerkan harta. Kesombongan juga bisa muncul ketika seseorang merasa paling benar, sulit menerima nasihat, dan menganggap pendapatnya selalu lebih baik daripada pendapat orang lain. Ironisnya, ia mungkin mengira sedang membela kebenaran, padahal diam-diam sedang melindungi egonya sendiri.

Kita mudah melihat kesalahan orang lain. Namun, ketika kekeliruan itu tumbuh dalam diri sendiri, kita sering punya banyak alasan untuk membenarkannya. Kita menyebutnya prinsip, ketegasan, bahkan keberanian mempertahankan keyakinan.

Merasa benar tidak otomatis berarti sombong. Akan tetapi, merasa tidak mungkin salah adalah sikap yang patut diwaspadai. Di sinilah muhasabah menjadi penting: berani memeriksa diri sendiri sebelum sibuk mengoreksi orang lain.

Sombong dalam Islam Bukan Sekadar Pamer Harta

Kesombongan kerap dikaitkan dengan kekayaan, jabatan, pendidikan, atau status sosial. Padahal, seseorang tidak harus memiliki semua itu untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Ada orang yang sederhana secara ekonomi, tetapi gemar merendahkan mereka yang dianggap kurang pintar. Ada pula orang yang menguasai banyak pengetahuan agama, tetapi sulit menerima koreksi ketika pendapatnya dipertanyakan.

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah saw. menjelaskan:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
bahwa kesombongan berkaitan dengan menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Hadis tersebut tercantum dalam Sahih Muslim, nomor 91a.

Penjelasan ini memberikan ukuran yang lebih mendasar daripada penampilan luar. Persoalannya bukan sekadar seberapa tinggi kedudukan seseorang, melainkan bagaimana ia menyikapi kebenaran dan memperlakukan orang lain.

Karena itu, seseorang boleh memiliki pendirian kuat dan berbeda pendapat. Namun, ia tetap perlu membuka ruang untuk bukti, koreksi, dan penjelasan yang lebih tepat. Keteguhan prinsip tidak harus berubah menjadi penghinaan terhadap orang yang berbeda pandangan.

Ketika Nasihat Dianggap sebagai Serangan

Salah satu ujian bagi ego adalah menerima teguran. Ketika seseorang menunjukkan kekeliruan kita, mana yang lebih dahulu muncul: keinginan memahami atau dorongan membela diri?

Sebagian orang langsung mencari kelemahan pemberi nasihat. Mereka mempertanyakan latar belakangnya, mengungkit kesalahannya, atau menyerang cara bicaranya. Padahal, kekurangan orang yang menyampaikan nasihat tidak otomatis membuat isi nasihat itu salah.

Al-Qur’an memberikan gambaran tentang sikap yang patut direnungkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 206:
وَاِذَا قِيْلَ لَهُ اتَّقِ اللّٰهَ اَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْاِثْمِ فَحَسْبُهٗ جَهَنَّمُ ۗ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ

Ayat tersebut menggambarkan seseorang yang ketika diingatkan agar bertakwa kepada Allah, justru dikuasai kesombongan yang mendorongnya bertahan dalam dosa.

Ayat ini bukan alasan untuk menganggap setiap orang yang marah ketika dikritik sebagai pribadi sombong. Kritik bisa keliru, tidak adil, atau disampaikan dengan cara yang menyakitkan. Kita tetap perlu menilai substansinya secara jernih.

Namun, ada pertanyaan yang layak kita ajukan kepada diri sendiri: jangan-jangan kita menolak nasihat bukan karena isinya salah, melainkan karena terlalu berat mengakui bahwa orang lain mungkin benar?

Merasa Paling Paham Agama, tetapi Lupa Menjaga Akhlak

Kesombongan menjadi lebih rumit ketika bersembunyi di balik pengetahuan agama. Seseorang bisa mengutip dalil dengan lancar, mengoreksi kekeliruan orang lain, dan berbicara tentang akhlak. Akan tetapi, pengetahuan itu kehilangan manfaat ketika ia menjadikannya alat untuk merendahkan sesama.

Allah mengingatkan manusia agar tidak memalingkan wajah dari orang lain karena sombong dan tidak berjalan di bumi dengan angkuh:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ

Pesan ayat ini mengingatkan kita bahwa cara memperlakukan orang lain juga penting. Menyampaikan kebenaran tidak mengharuskan seseorang menghina. Menguasai ilmu tidak memberinya hak untuk mempermalukan orang yang belum memahami.

Sebaliknya, pengetahuan harus berjalan bersama kerendahan hati dan tanggung jawab. Seseorang perlu membedakan antara meluruskan kekeliruan dan memuaskan keinginan untuk menang.

Sebab, menang dalam perdebatan tidak selalu berarti benar dalam bersikap.

Cara Mengenali Kesombongan dalam Diri Sendiri

Lalu, bagaimana kita memeriksa penyakit hati yang sering luput dari perhatian ini?

Pertama, perhatikan reaksi ketika menerima kritik. Apakah kita langsung menyela, marah, atau mencari kesalahan orang yang menegur? Jika iya, berhentilah sejenak sebelum menjawab. Tidak semua kritik benar, tetapi setiap kritik bisa menjadi kesempatan untuk memeriksa diri.

Kedua, biasakan mengakui kesalahan ketika bukti menunjukkan bahwa kita keliru. Mengucapkan “saya salah” tidak meruntuhkan martabat. Justru keberanian memperbaiki diri menunjukkan bahwa kita lebih menghargai kebenaran daripada gengsi.

Ketiga, bedakan keteguhan prinsip dari keengganan berubah. Prinsip yang memiliki dasar kuat memang perlu dijaga. Namun, mempertahankan pendapat hanya karena malu mengaku salah bukan keteguhan, melainkan keterikatan pada ego.

Terakhir, latih diri mendengarkan sampai tuntas. Jangan sibuk menyusun jawaban ketika orang lain masih berbicara. Bisa jadi, kita bukan kekurangan kesempatan untuk memahami, melainkan terlalu ingin membuktikan bahwa diri sendiri paling memahami.

Upaya membenahi batin juga perlu berjalan bersama perbaikan perilaku sehari-hari. Pembahasan tentang tasawuf di era digital dapat menjadi bacaan lanjutan untuk memahami pentingnya menjaga niat dan akhlak di tengah kehidupan modern.

Jangan Sampai Kebenaran Hanya Menjadi Alat untuk Menang

Merasa benar bukanlah kesalahan. Kita memang perlu mempertahankan pendapat yang memiliki dasar kuat dan menolak hal yang terbukti keliru. Namun, keyakinan itu harus berjalan bersama kerendahan hati dan kesediaan menerima koreksi.

Karena itu, jangan hanya bertanya apakah kita mampu menunjukkan kesalahan orang lain. Tanyakan pula apakah kita bersedia memperbaiki diri ketika kesalahan sendiri sudah terlihat jelas.

Tidak semua orang yang berbeda pendapat sedang memusuhi kita. Tidak semua nasihat merupakan penghinaan. Terkadang, orang yang berani mengingatkan justru sedang memberi kesempatan kepada kita untuk tumbuh.

Sebab, kesombongan paling berbahaya bukan ketika kita merasa lebih tinggi daripada orang lain, melainkan ketika kita merasa sudah terlalu benar untuk perlu memperbaiki diri. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less