Ibnu Athaillah: Jangan Bangga pada Kemuliaan yang Bisa Hancur
- account_circle redaktur
- calendar_month Senin, 19 Okt 2026
- visibility 28
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi refleksi Ibnu Athaillah tentang kemuliaan abadi dan bahaya menyandarkan harga diri pada harta serta jabatan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH — Kemuliaan abadi bukan terletak pada tingginya jabatan, tebalnya rekening, atau panjangnya daftar orang penting yang mengenal kita. Dalam Kitab Al-Hikam, Ibnu Athaillah mengingatkan bahwa kehormatan sejati tidak semestinya bergantung pada sesuatu yang bisa lenyap. Pesan ini menjadi sindiran bagi manusia yang sibuk terlihat mulia di mata sesama, tetapi lupa membangun kualitas diri di hadapan Allah.
Dalam salah satu hikmahnya, Ibnu Athaillah menulis:
إِذَا أَرَدْتَ أَنْ يَكُونَ لَكَ عِزٌّ لَا يَفْنَى، فَلَا تَسْتَعِزَّنَّ بِعِزٍّ يَفْنَى
Artinya, “Jika engkau ingin memiliki kemuliaan yang tidak akan binasa, janganlah mencari kemuliaan melalui sesuatu yang akan binasa.”
Kalimat tersebut mengandung pelajaran sederhana sekaligus menohok. Sebab, manusia sering mengejar pengakuan seolah-olah tepuk tangan orang lain merupakan bukti paling sahih bahwa dirinya berharga. Padahal, pujian bisa berubah menjadi cibiran ketika keadaan berbalik.
Jabatan Tinggi, Harga Diri Ikut Naik?
Lihatlah bagaimana jabatan dapat mengubah cara sebagian orang memperlakukan dirinya sendiri. Ketika memiliki kekuasaan, ia merasa penting. Orang-orang mendekat, sapaan terdengar lebih hormat, dan pendapatnya seolah selalu layak mendapat tempat.
Namun, ketika jabatan berakhir, perhatian yang dahulu mengalir deras bisa mendadak surut. Mereka yang kemarin berebut mendekat mungkin hari ini sibuk mencari orang baru yang lebih berpengaruh.
Di situlah ironi kehormatan dunia terlihat. Seseorang mengira orang lain menghormati pribadinya, padahal sebagian mungkin hanya menghormati kewenangan yang melekat pada kursinya.
Hal serupa terjadi pada kekayaan dan popularitas. Selama seseorang mampu memberi keuntungan, namanya mudah mendapat tempat. Sebaliknya, ketika kelebihan itu menghilang, hubungan yang tampak akrab belum tentu bertahan.
Tentu, jabatan, harta, dan kedudukan bukan sesuatu yang otomatis buruk. Semuanya dapat menjadi sarana untuk membantu sesama, membangun usaha, dan menjalankan amanah. Masalah muncul ketika manusia menjadikan semua itu sebagai satu-satunya penyangga harga diri.
Akibatnya, ia hidup dalam kecemasan. Ia takut tersaingi, khawatir kehilangan pengaruh, dan gelisah ketika orang lain mendapat penghargaan lebih besar.
Ironisnya, semakin keras ia berusaha terlihat mulia, semakin besar pula ketakutannya kehilangan sesuatu yang membuatnya merasa mulia.
Al-Hikam Menyindir Manusia Pemburu Pengakuan
Pesan Ibnu Athaillah tidak mengajak manusia membenci dunia. Sebaliknya, hikmah tersebut mengingatkan agar hati tidak diperbudak oleh apa yang dimiliki.
Dalam perspektif tasawuf, manusia tetap perlu bekerja, mencari nafkah, meningkatkan kemampuan, dan menjalankan tanggung jawab. Akan tetapi, ia perlu membedakan antara memanfaatkan nikmat dan menggantungkan seluruh kehormatan diri pada nikmat tersebut.
Seseorang boleh memiliki jabatan tinggi tanpa merasa lebih suci daripada orang lain. Begitu pula seorang pengusaha boleh menikmati keberhasilan tanpa merendahkan orang yang belum berhasil. Sebab, pencapaian duniawi tidak otomatis membuktikan kualitas akhlak seseorang.
Selain itu, ketergantungan pada pengakuan sosial dapat membuat manusia terus mengejar validasi. Hari ini ia bahagia karena mendapat pujian; besok ia gelisah karena kritik. Akhirnya, orang lain seolah memegang kendali atas ketenangan batinnya.
Padahal, kemuliaan sejati justru menuntut keteguhan karakter ketika pujian berhenti. Kejujuran tetap penting ketika kebohongan lebih menguntungkan. Amanah tetap harus dijaga ketika tidak ada orang yang mengawasi.
Dengan demikian, nasihat Al-Hikam mengajak pembaca memeriksa kembali sumber kebanggaannya. Apakah ia merasa berharga karena kekayaan dan kedudukan, atau karena berusaha menjaga iman, akhlak, dan tanggung jawab?
Al-Qur’an Menegaskan Sumber Kemuliaan
Allah berfirman dalam Surah Yūnus ayat 65:
وَلَا يَحْزُنكَ قَوْلُهُمْ ۘ إِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا ۚ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Artinya, “Janganlah engkau (Nabi Muhammad) bersedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya milik Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Yūnus: 65).
Ayat tersebut menegaskan bahwa kemuliaan dan kekuasaan pada hakikatnya berada dalam kekuasaan Allah. Karena itu, penilaian manusia tidak boleh menjadi ukuran mutlak bagi harga diri seorang Muslim.
Namun, keyakinan tersebut bukan alasan untuk mengabaikan kritik atau merasa selalu benar. Sebaliknya, seorang Muslim tetap perlu mengevaluasi diri, memperbaiki kesalahan, dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Perbedaannya terletak pada sandaran hati. Ia tidak harus membalas setiap hinaan demi memulihkan gengsi. Ia juga tidak perlu merendahkan orang lain demi membuktikan keunggulan dirinya.
Dengan begitu, kedekatan kepada Allah seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan baru yang dibungkus simbol-simbol agama.
Jika Semua Kehormatan Dunia Hilang, Apa yang Tersisa?
Ada pertanyaan yang layak diajukan kepada diri sendiri: jika jabatan berakhir, kekayaan menyusut, popularitas meredup, dan pujian berhenti, apa yang masih tersisa dari diri kita?
Jawabannya tidak cukup berupa gelar, aset, atau daftar relasi penting. Lebih mendasar daripada itu ialah kejujuran, kepedulian, amanah, tanggung jawab, serta kesungguhan menjaga hubungan dengan Allah.
Karena itu, hikmah Ibnu Athaillah relevan bagi siapa pun, termasuk pemimpin, pengusaha, pekerja, dan masyarakat biasa. Setiap orang memiliki peluang untuk menjadikan dunia sebagai sarana kebaikan tanpa menjadikannya ukuran tunggal kemuliaan.
Pada akhirnya, manusia tidak harus meninggalkan ambisi untuk hidup lebih baik. Ia hanya perlu memastikan bahwa ambisi tersebut tidak merusak akhlak dan membuatnya memandang rendah orang lain.
Sebab, kemuliaan yang bergantung pada tepuk tangan manusia akan ikut sunyi ketika tepuk tangan berhenti. Dan jika seluruh harga diri hanya berdiri di atas jabatan, jangan heran ketika kursi kosong membuat seseorang merasa dirinya juga ikut hilang. (Red)
- Penulis: redaktur
