Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Lahan Kering Jadi Wisata, Melon Pangandaran Bikin Warga Berdatangan

Lahan Kering Jadi Wisata, Melon Pangandaran Bikin Warga Berdatangan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 14 Sep 2026
  • visibility 60
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAHWisata melon Pangandaran menghadirkan sisi lain dari daerah yang selama ini sangat lekat dengan wisata pantai. Di Dusun Sindangsari, Desa Sindangwangi, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, kebun melon ramai didatangi warga setelah informasi mengenai panen dan wisata petik menyebar melalui media sosial.

Pengunjung tidak hanya datang untuk membeli buah. Mereka bisa masuk ke area kebun, memilih melon, bahkan memetiknya langsung dari tanaman. Fenomena itu membuat kebun melon Pangandaran berkembang menjadi lokasi wisata petik berbasis pertanian sekaligus membuka jalur pemasaran baru bagi petani.

Menariknya, cerita tersebut berawal dari persoalan yang cukup sederhana: lahan pertanian yang kurang produktif saat kemarau.

Dari Lahan Kering Menjadi Kebun Melon

Di Dusun Sindangsari, Iwan Mulyana mengembangkan budidaya melon di lahan sekitar 80 bata. Sebelumnya, lahan tersebut hanya dapat dimanfaatkan secara terbatas karena kondisi tanah menjadi keras dan retak ketika musim kemarau.

Alih-alih membiarkan kondisi tersebut, Iwan mengolah lahan menjadi bedengan dan menggunakan mulsa. Ia juga membuat sumur mandiri serta memasang sistem irigasi tetes atau drip irrigation untuk mengatur pemberian air kepada tanaman.

Hasilnya mulai terlihat. Sekitar 1.500 tanaman melon tumbuh di lahan tersebut, termasuk varietas Amanda. Saat dilaporkan pada awal September, tanaman telah memasuki usia sekitar 62 hari setelah tanam dan mulai memasuki masa panen.

Menurut laporan tersebut, sebagian besar buah memiliki bobot sekitar 1,5 hingga 1,7 kilogram. Beberapa buah bahkan mencapai sekitar dua kilogram.

Dengan demikian, kisah melon Pangandaran bukan sekadar cerita tentang buah yang sedang ramai. Ada inovasi budidaya di baliknya.

Pengunjung Datang untuk Memetik Sendiri

Ketika masa panen tiba, pola penjualan ikut berubah.

Pengelola membuka kebun bagi masyarakat yang ingin merasakan langsung aktivitas memetik melon. Pengunjung dapat memilih buah sendiri dari tanaman, kemudian membawanya pulang.

Harga eceran yang diberitakan berada di kisaran Rp15.000 per kilogram. Dalam beberapa hari setelah wisata petik dibuka, ratusan orang datang ke lokasi.

Menariknya, sebagian pengunjung bahkan menandai buah yang masih muda dengan nama mereka. Mereka kemudian dapat kembali ketika buah tersebut sudah siap dipanen.

Aktivitas seperti itu memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan membeli melon di pasar.

Pengunjung memperoleh pengalaman berada langsung di kebun, sedangkan petani mendapatkan kesempatan menjual hasil panen tanpa hanya mengandalkan jalur pasar konvensional.

Menurut laporan detikJabar, hasil penjualan dari kegiatan wisata petik tersebut telah mencapai lebih dari dua ton.

Media Sosial Membawa Pembeli dari Luar Pangandaran

Bagian paling menarik dari fenomena wisata melon Pangandaran justru terjadi di dunia digital.

Iwan mengaku tidak memiliki akun media sosial sendiri. Namun, unggahan warga mengenai kebun tersebut di TikTok kemudian menyebar dan membuat lebih banyak orang mengetahui keberadaannya.

Dampaknya terlihat dari asal pengunjung.

Selain warga Pangandaran, pengunjung datang dari Ciamis, Banjar, hingga Cilacap. Salah seorang pengunjung asal Banjarsari, Ciamis, mengaku mengetahui kebun tersebut setelah melihat video yang beredar di media sosial.

Situasi itu menunjukkan perubahan sederhana tetapi penting.

Petani tidak selalu harus mencari pembeli ke pasar. Dalam kondisi tertentu, cerita tentang produk justru dapat membawa pembeli datang langsung kepada petani.

Bahkan, ketika kunjungan meningkat, Iwan mulai melibatkan tetangga untuk membantu memetik dan mengurus kebun. Warga sekitar juga membantu menata parkir ketika jumlah pengunjung bertambah.

Jadi, efeknya tidak hanya dirasakan oleh pemilik kebun.

Bukan Sekadar Melon, Ada Ekonomi Warga di Belakangnya

Perubahan tersebut membuat kebun melon memiliki fungsi yang lebih luas.

Petani mendapatkan pasar. Pengunjung mendapatkan pengalaman. Sementara itu, warga sekitar memperoleh kesempatan membantu aktivitas kebun dan pelayanan kepada pengunjung.

Model seperti ini menarik untuk perkembangan agrowisata Pangandaran, terutama karena aktivitas wisata tidak harus selalu berlangsung di kawasan pantai.

Pangandaran memiliki banyak ruang ekonomi di luar sektor wisata pesisir. Pertanian, kuliner, kerajinan, dan usaha masyarakat dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata apabila dikembangkan secara konsisten.

Namun, tentu tidak semua kebun otomatis dapat menjadi destinasi wisata. Faktor akses, kenyamanan pengunjung, siklus panen, kebersihan, keselamatan, dan keberlanjutan produksi tetap menjadi bagian penting.

Karena itu, keberhasilan kebun melon Sindangsari perlu dilihat bukan hanya dari ramainya pengunjung dalam beberapa hari.

Bisakah Wisata Melon Bertahan Setelah Viral?

Inilah tantangan berikutnya.

Masa panen melon memiliki siklus. Iwan menyebut bibit baru perlu disiapkan agar produksi dapat berlangsung secara berkelanjutan. Ia juga mempertimbangkan penggunaan media sosial sendiri untuk memperluas pemasaran.

Artinya, viral saja tidak cukup.

Jika pengelola mampu menjaga kualitas buah, mengatur siklus tanam, memberikan pengalaman yang baik kepada pengunjung, serta mengelola promosi digital secara konsisten, wisata melon Pangandaran berpeluang berkembang lebih jauh.

Bahkan, Iwan juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin belajar menanam melon. Ia menyatakan siap memberikan pelatihan bagi warga yang berminat mencoba budidaya tersebut.

Pada titik itu, cerita kebun melon tidak lagi hanya tentang satu petani.

Ia bisa berkembang menjadi cerita tentang bagaimana inovasi pertanian, pemasaran digital, dan keterlibatan masyarakat bertemu dalam satu usaha lokal.

Pangandaran memang sangat lekat dengan pantai. Namun, dari Padaherang muncul cerita berbeda: lahan yang dulu menghadapi persoalan saat kemarau kini justru mengundang orang datang. Melon akhirnya bukan cuma hasil panen. Ia menjadi pengalaman, pasar baru, dan peluang ekonomi bagi warga. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less