Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » PSGC Ciamis Kalah 1-2, Kenapa Peluang Tak Jadi Poin?

PSGC Ciamis Kalah 1-2, Kenapa Peluang Tak Jadi Poin?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Minggu, 13 Sep 2026
  • visibility 60
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAHPSGC Ciamis mengawali Championship 2026/2027 dengan kekalahan 1-2 dari Persikad Depok. Hasil PSGC Ciamis vs Persikad di Stadion Pakansari, Bogor, Sabtu, 12 September 2026, meninggalkan satu pertanyaan penting: mengapa tekanan dan peluang yang dibangun Laskar Singacala belum cukup untuk menghasilkan poin?

Di bawah arahan Heri Kiswanto, PSGC mencoba mengambil kendali pertandingan sejak menit awal. Tim asal Ciamis itu menggunakan skema 4-3-3 dan beberapa kali membangun serangan melalui lini tengah.

Namun, Persikad justru mampu mencetak gol lebih dahulu.

Situasi tersebut membuat pertandingan tidak sekadar menjadi persoalan siapa yang lebih banyak menguasai bola. Efektivitas di area akhir lapangan akhirnya menjadi pembeda.

PSGC Ciamis Sempat Mengendalikan Permainan

Sepuluh menit pertama menjadi periode ketika PSGC terlihat lebih aktif menguasai permainan. Bola banyak bergerak di lini tengah, sementara Persikad memilih bermain lebih hati-hati dan menunggu kesempatan untuk melakukan serangan balik.

Akan tetapi, tekanan PSGC belum menghasilkan gol.

Persikad kemudian memanfaatkan peluang pada menit ke-22. Fikri mencetak gol melalui sundulan setelah menerima umpan dari Gustavo Franca. Skor berubah menjadi 1-0 untuk tuan rumah.

Tertinggal satu gol tidak membuat PSGC kehilangan arah.

Sebaliknya, Laskar Singacala terus mencoba mencari celah. Beberapa tembakan dilepaskan, tetapi penjaga gawang Persikad masih mampu mengamankan sejumlah peluang.

Usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil menjelang babak pertama berakhir.

Pada menit ke-45+1, Ezechiel N’Douassel mencetak gol melalui sundulan setelah menerima umpan jauh. Skor pun kembali menjadi 1-1.

Gol tersebut seharusnya menjadi modal penting PSGC untuk memasuki babak kedua.

Namun, pertandingan justru kembali berubah.

Satu Kelengahan Mengubah Arah Pertandingan

Lima menit setelah babak kedua dimulai, Persikad kembali unggul.

Gustavo Franca mencetak gol pada menit ke-50 dan membawa Persikad memimpin 2-1. Laporan pertandingan DetikJabar menyebut gol tersebut lahir setelah lini belakang PSGC gagal mengantisipasi pergerakan pemain lawan.

PSGC kemudian meningkatkan tekanan.

Pada menit ke-54, Izmir mendapat kesempatan untuk menyamakan kedudukan. Namun, tendangannya masih melambung. Satu menit kemudian, Ezechiel hampir mencetak gol keduanya, tetapi sundulannya justru membentur tiang.

Dari sini terlihat persoalan utama PSGC pada laga tersebut.

Peluang sebenarnya tersedia.

Masalahnya, peluang itu belum berubah menjadi gol tambahan.

Dominasi PSGC Belum Berbuah Poin

Menurut statistik pertandingan yang dikutip DetikJabar, PSGC mencatat 63 persen penguasaan bola, melepaskan delapan tembakan dengan tiga di antaranya tepat sasaran, serta memperoleh empat sepak pojok. Namun, angka tersebut belum cukup untuk mengubah skor.

Statistik itu memberi gambaran bahwa PSGC bukan tim yang hanya bertahan sepanjang pertandingan.

Laskar Singacala justru terus berusaha mengembangkan permainan setelah kembali tertinggal.

Karena itu, kekalahan dari Persikad tidak tepat jika hanya dibaca sebagai persoalan penguasaan bola. Sepak bola menuntut lebih dari sekadar mengontrol permainan. Sebuah tim juga harus mampu memaksimalkan kesempatan yang muncul di sekitar kotak penalti.

Persikad berhasil melakukan hal tersebut dengan lebih baik.

Sementara itu, PSGC masih membutuhkan ketajaman tambahan pada fase akhir serangan.

Ezechiel Sudah Mencetak Gol, Tetapi Belum Cukup

Ezechiel N’Douassel menjadi salah satu pemain yang memberikan ancaman bagi pertahanan Persikad.

Selain mencetak gol penyama kedudukan, penyerang PSGC tersebut juga hampir mencetak gol keduanya setelah sundulannya mengenai tiang. Momen itu menunjukkan bahwa PSGC memiliki sumber ancaman di lini depan.

Namun, mengandalkan satu sumber ancaman tentu tidak cukup untuk melewati pertandingan yang ketat.

PSGC membutuhkan variasi serangan yang lebih konsisten. Dengan begitu, perhatian pertahanan lawan tidak hanya tertuju kepada Ezechiel.

Di sisi lain, koordinasi pertahanan juga perlu mendapat perhatian.

Ketika tim sedang mengejar gol, risiko kehilangan keseimbangan memang semakin besar. Karena itu, lini belakang tetap harus menjaga konsentrasi agar tekanan yang dibangun tidak berujung pada serangan balik atau peluang bagi lawan.

Laga di Stadion Galuh Jadi Ujian Berikutnya

Kekalahan di Pakansari belum menentukan perjalanan PSGC sepanjang musim.

Masih banyak pertandingan yang harus dimainkan. Bahkan, kesempatan memperbaiki posisi sudah menunggu di kandang sendiri.

Berdasarkan jadwal resmi I-League, PSGC Ciamis akan menjamu Sumsel United di Stadion Galuh pada 19 September 2026 pukul 15.30 WIB. Setelah itu, PSGC kembali bermain di kandang menghadapi Semen Padang FC pada 26 September 2026.

Dua laga tersebut dapat menjadi kesempatan bagi PSGC untuk memperbaiki respons setelah kekalahan di pertandingan pembuka.

Namun, pekerjaan rumahnya cukup jelas.

Peluang harus menjadi gol. Dominasi harus berubah menjadi tekanan yang efektif. Dan ketika kehilangan bola, konsentrasi pertahanan tidak boleh ikut hilang.

Jika tiga aspek tersebut membaik, PSGC punya peluang untuk menunjukkan bahwa kekalahan dari Persikad hanyalah satu episode pada awal perjalanan panjang Championship 2026/2027.

PSGC Ciamis Tidak Kehabisan Peluang

Hasil Persikad vs PSGC 2-1 memang membuat Laskar Singacala pulang tanpa poin.

Namun, pertandingan tersebut juga memperlihatkan bahwa PSGC mampu menciptakan tekanan dan peluang. Persoalannya lebih terletak pada bagaimana peluang itu diselesaikan dan bagaimana tim menjaga konsentrasi ketika pertandingan memasuki fase krusial.

Karena itu, laga berikutnya menjadi penting.

Bukan hanya untuk mengejar tiga poin, tetapi juga untuk membuktikan apakah PSGC mampu belajar dari kekalahan pertamanya.

Di sepak bola, dominasi bisa membuat sebuah tim terlihat menjanjikan. Tetapi klasemen tidak menghitung siapa yang paling lama memegang bola. Klasemen menghitung siapa yang paling banyak mencetak gol. Dan itulah pekerjaan rumah terbesar PSGC Ciamis sekarang: mengubah peluang menjadi poin. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less