PESONA Perikanan Garut, Bisakah Olahan Ikan Naik Kelas?
- account_circle redaktur
- calendar_month Jumat, 16 Okt 2026
- visibility 42
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi pengolahan ikan menjadi produk bernilai tambah melalui pengemasan dan teknologi pengawetan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AlbadarPost.com, BERITA DAERAH — PESONA Perikanan Garut mulai mendorong pengolahan hasil perikanan ke arah yang lebih modern. Namun, keberhasilan program ini tidak cukup diukur dari jumlah peserta pelatihan. Tantangan sesungguhnya terletak pada kemampuan pelaku usaha menghasilkan produk bermutu, memperluas pasar, dan meningkatkan pendapatan secara berkelanjutan.
Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Garut menggelar pelatihan pengawetan pangan menggunakan metode pengalengan atau retort di Balai Benih Ikan (BBI) Bayongbong, Selasa, 13 Oktober 2026. Kegiatan tersebut melibatkan 30 peserta dari kelompok wanita pengolah hasil perikanan di lima kecamatan.
Program bertajuk PESONA atau Penguatan Sistem Olahan dan Inovasi Produk Perikanan itu diarahkan untuk meningkatkan keterampilan pengolahan, memperpanjang masa simpan produk, serta membuka peluang pemasaran yang lebih luas.
Arah program ini relevan bagi pelaku usaha pengolahan ikan. Sebab, hasil perikanan tidak hanya membutuhkan pasokan bahan baku, tetapi juga teknik pengolahan, pengendalian mutu, kemasan, dan strategi pemasaran agar memiliki nilai jual lebih tinggi.
Meski demikian, pelatihan baru menjadi tahap awal. Dampak ekonominya masih perlu dibuktikan melalui perkembangan usaha, penjualan produk, dan perubahan pendapatan peserta.
30 Peserta dari Lima Kecamatan Mengikuti Pelatihan
Pelatihan PESONA Perikanan Garut melibatkan kelompok wanita pengolah ikan dari Kecamatan Karangpawitan, Pakenjeng, Cisurupan, Pasirwangi, dan Sukawening.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi pengawetan pangan dengan metode pengalengan dan retort. Pelatihan menghadirkan Alfin dan Elfi dari SSCOOL sebagai pemateri.
Teknologi pengawetan dapat membantu pelaku usaha mengembangkan produk dengan masa simpan yang lebih panjang. Namun, hasilnya bergantung pada penerapan proses yang tepat, pengendalian mutu, kemasan, dan penanganan produk setelah pengolahan.
Karena itu, keterampilan teknis perlu berjalan bersama pemahaman mengenai keamanan pangan. Pelaku usaha juga membutuhkan pendampingan agar pengetahuan yang diperoleh saat pelatihan dapat diterapkan secara konsisten dalam kegiatan produksi.
Jumlah peserta menjadi salah satu indikator jangkauan program. Akan tetapi, ukuran tersebut belum menjelaskan berapa banyak usaha yang mampu menerapkan teknologi baru atau menghasilkan produk yang siap bersaing di pasar.
Nilai Tambah Tidak Cukup Berhenti pada Pengolahan
Pengolahan hasil perikanan berpotensi menciptakan nilai tambah ketika produk memiliki kualitas yang terjaga, daya simpan sesuai standar, dan harga jual yang mampu menutup biaya produksi.
Di sisi lain, penggunaan teknologi juga dapat membawa kebutuhan biaya tambahan. Pelaku usaha perlu memperhitungkan bahan baku, kemasan, energi, peralatan, tenaga kerja, distribusi, dan promosi sebelum menentukan harga jual.
Artinya, produk yang lebih modern belum tentu langsung menghasilkan keuntungan lebih besar. Perhitungan usaha dan respons pasar tetap menentukan apakah inovasi tersebut layak diterapkan secara berkelanjutan.
Dalam laporan kegiatan yang dipublikasikan Pemerintah Kabupaten Garut, program ini diarahkan untuk meningkatkan keterampilan, nilai tambah, daya saing, dan peluang pasar. Namun, laporan tersebut belum menyajikan angka omzet, perkembangan penjualan, biaya produksi, atau perubahan pendapatan peserta setelah pelatihan.
Ketiadaan angka dalam laporan itu bukan bukti bahwa program tidak memberikan manfaat. Akan tetapi, informasi tersebut menunjukkan bahwa dampak ekonomi belum dapat dinilai secara kuantitatif hanya berdasarkan publikasi kegiatan.
Ke depan, data sebelum dan sesudah pelatihan akan membantu publik menilai perkembangan program secara lebih terukur. Indikatornya dapat mencakup jumlah usaha yang aktif memproduksi, produk yang dipasarkan, perubahan omzet, serta perkembangan laba setelah biaya produksi diperhitungkan.
Garut Fish Market Membuka Jalur Pemasaran Digital
Selain pelatihan, pemerintah daerah memperkenalkan katalog digital produk olahan perikanan melalui aplikasi Garut Fish Market yang dapat diakses di sakana-diskannak.garutkab.go.id.
Katalog tersebut berpotensi menjadi sarana untuk memperkenalkan produk kepada calon pembeli. Bagi pelaku usaha kecil, kehadiran di kanal digital dapat membantu memperluas jangkauan informasi tanpa hanya mengandalkan pemasaran di lingkungan sekitar.
Namun, katalog digital bukan jaminan bahwa transaksi akan meningkat. Manfaatnya bergantung pada kelengkapan informasi produk, kualitas foto, harga, ketersediaan stok, kemudahan pemesanan, serta kemampuan produsen memenuhi pesanan.
Pelaku usaha juga membutuhkan strategi promosi dan distribusi yang sesuai dengan karakter produknya. Tanpa pengelolaan tersebut, katalog berisiko hanya menjadi etalase yang menampilkan produk tanpa menghasilkan permintaan yang berkelanjutan.
Karena itu, perkembangan Garut Fish Market perlu dinilai bukan hanya dari keberadaan katalog, tetapi juga dari aktivitas pembeli, pesanan yang masuk, dan transaksi yang benar-benar terjadi. Data tersebut penting untuk melihat apakah fasilitas digital berhasil menghubungkan produsen dengan pasar.
Ujian Berikutnya: Mutu Produk dan Dampak Ekonomi
Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Garut, Dyah Savitri, mendukung peningkatan keterampilan, nilai tambah, dan daya saing produk perikanan. Tindak lanjut yang dibutuhkan mencakup praktik, pendampingan, penguatan kelembagaan kelompok, mutu produk, dan pemasaran.
Langkah berikutnya adalah memastikan pelatihan tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Pendampingan dapat membantu peserta menerapkan teknik pengolahan secara konsisten, mengevaluasi biaya usaha, serta menyesuaikan produk dengan kebutuhan calon pembeli.
Selain itu, pengembangan produk perlu memperhatikan persyaratan keamanan pangan dan perizinan yang relevan dengan jenis produk serta skala usahanya. Klaim mengenai kelayakan atau sertifikasi produk harus didukung bukti, bukan sekadar diasumsikan dari penggunaan teknologi pengawetan.
Pemerintah daerah juga dapat memperkuat evaluasi dengan mencatat perkembangan usaha peserta secara berkala. Dengan begitu, hasil program dapat dilihat melalui perubahan yang terukur, bukan hanya jumlah kegiatan dan peserta.
Bagi kelompok pengolah ikan, tantangannya adalah mengubah keterampilan menjadi produk yang konsisten dan memiliki pasar. Sementara itu, bagi pemerintah, pekerjaan belum selesai ketika pelatihan berakhir. Keberlanjutan program memerlukan dukungan teknis, akses pemasaran, dan evaluasi yang terbuka.
PESONA Perikanan Garut memiliki arah yang menjanjikan, tetapi dampak akhirnya masih membutuhkan pembuktian. Sebab, ukuran keberhasilan bukan semata-mata berapa orang yang hadir dalam pelatihan, melainkan berapa usaha yang berkembang, berapa produk yang benar-benar terserap pasar, dan apakah pendapatan pelaku usaha ikut meningkat. (Red)
- Penulis: redaktur
