Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » FORKAB Garut 2026: 42 Kecamatan, Panggung Bibit Olahraga

FORKAB Garut 2026: 42 Kecamatan, Panggung Bibit Olahraga

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Minggu, 13 Sep 2026
  • visibility 45
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAHFORKAB Garut 2026 bukan hanya tentang mencari pemenang dari sejumlah pertandingan. Ketika 42 kecamatan ikut turun membawa pegiatnya, Festival Olahraga Masyarakat Kabupaten (FORKAB) V KORMI Garut menjadi ruang yang lebih besar: mempertemukan pegiat olahraga masyarakat, membuka peluang regenerasi, sekaligus melihat potensi yang tumbuh dari berbagai wilayah Kabupaten Garut.

FORKAB V 2026 resmi dibuka di GOR Cikuray, Kompleks SOR RAA Adiwijaya, Kecamatan Tarogong Kidul, Sabtu, 12 September 2026. Bupati Garut Abdusy Syakur Amin membuka kegiatan tersebut yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas).

Yang menarik, kekuatan FORKAB kali ini justru terletak pada sebaran pesertanya.

Dari kecamatan yang berada di pusat kabupaten hingga wilayah yang lebih jauh, para pegiat olahraga masyarakat mendapatkan panggung untuk menunjukkan kemampuan mereka.

42 Kecamatan Turun, Potensi Olahraga Menyebar

Kehadiran seluruh 42 kecamatan membuat FORKAB Garut 2026 memiliki fungsi yang berbeda dari sekadar pertandingan biasa.

Setiap kecamatan membawa perwakilan dan pegiat olahraga masyarakat untuk berkompetisi. Dengan begitu, FORKAB menjadi semacam ruang pemetaan awal terhadap potensi yang selama ini berkembang di tingkat lokal.

Di sinilah nilai strategis kegiatan tersebut.

Potensi olahraga tidak selalu muncul dari klub besar atau pusat pelatihan formal. Sebagian justru tumbuh dari lingkungan masyarakat, sekolah, komunitas, dan kegiatan rekreasi di tingkat kecamatan.

Karena itu, semakin luas partisipasi wilayah, semakin besar pula peluang pemerintah daerah dan KORMI menemukan pegiat yang memiliki kemampuan untuk dikembangkan lebih lanjut.

Sebelum pembukaan, misalnya, Kecamatan Cikajang sudah melakukan persiapan seleksi pegiat KORMI untuk mengikuti FORKAB. Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa persiapan tidak hanya berlangsung di lokasi utama, tetapi bergerak dari tingkat kecamatan.

Dengan pola seperti itu, FORKAB tidak berhenti ketika pertandingan selesai.

Ada potensi proses lanjutan berupa pembinaan dan regenerasi.

Bukan Olahraga Modern Saja yang Mendapat Panggung

Ada hal lain yang membuat olahraga masyarakat Garut menarik perhatian.

FORKAB V 2026 menghadirkan sejumlah cabang yang lekat dengan permainan tradisional dan aktivitas masyarakat. Di antaranya egrang, hadang, tarumpah panjang, dagongan, sumpitan, serta Senam KORMI.

Pilihan cabang tersebut memperlihatkan bahwa konsep olahraga masyarakat memiliki ruang yang luas.

Orang tidak harus selalu berlari di lintasan, bermain bola, atau mengejar prestasi dengan fasilitas olahraga modern. Permainan tradisional juga dapat menjadi sarana bergerak, berkompetisi, berinteraksi, dan membangun kebugaran.

Lebih jauh, permainan tersebut membawa unsur budaya.

Egrang, misalnya, bukan sekadar permainan keseimbangan. Dagongan membutuhkan kekuatan dan kerja sama. Terompah panjang menuntut kekompakan kelompok. Sementara sumpitan membutuhkan konsentrasi.

Artinya, setiap permainan memiliki karakter yang berbeda.

Karena itu, FORKAB KORMI Garut bisa menjadi ruang untuk mempertahankan permainan tradisional sekaligus mengenalkannya kepada generasi yang lebih muda.

Pesan Bupati: Olahraga Tidak Harus Berat

Bupati Garut Abdusy Syakur Amin juga mengingatkan bahwa olahraga masyarakat tidak harus selalu berorientasi pada prestasi.

Menurutnya, aktivitas fisik dapat dilakukan dengan cara yang sederhana dan menyenangkan. Olahraga juga dapat menjadi sarana menjaga kesehatan, memperluas pergaulan, serta membangun kegembiraan di tengah masyarakat.

Pesan tersebut menjadi penting ketika dikaitkan dengan tujuan FORKAB.

Jika olahraga hanya dipahami sebagai kompetisi, maka sebagian masyarakat mungkin merasa tidak memiliki tempat. Sebaliknya, konsep olahraga masyarakat membuka pilihan yang lebih luas.

Warga dapat memilih aktivitas sesuai minat dan kemampuan.

Karena itu, tugas berikutnya bukan hanya menyelesaikan FORKAB V 2026. Tantangan sebenarnya adalah menjaga agar antusiasme peserta tidak berhenti setelah pertandingan terakhir.

Di titik tersebut, peran kecamatan dan KORMI menjadi penting.

Dari FORKAB Menuju Regenerasi

FORKAB dapat menjadi titik awal untuk melihat siapa yang memiliki potensi.

Namun, potensi tidak otomatis berubah menjadi prestasi.

Diperlukan pembinaan, pendampingan, kesempatan mengikuti kompetisi, serta agenda olahraga yang berkelanjutan. Tanpa proses tersebut, peserta terbaik hari ini bisa saja berhenti setelah festival berakhir.

Sebaliknya, jika prosesnya berlanjut, FORKAB dapat menjadi salah satu pintu masuk pembibitan olahraga Garut dari bawah.

KORMI sendiri menempatkan olahraga masyarakat bukan semata-mata sebagai arena mencari juara. Kegiatan tersebut juga berkaitan dengan peningkatan partisipasi masyarakat, interaksi sosial, dan pelestarian olahraga tradisional.

Bahkan, perkembangan event olahraga di Garut belakangan menunjukkan adanya perhatian terhadap potensi pembinaan dan dampak ekonomi. Dalam kompetisi olahraga sebelumnya, Pemkab Garut juga mengaitkan event olahraga dengan upaya menggerakkan ekonomi masyarakat dan memperkenalkan potensi desa.

Dengan demikian, FORKAB mempunyai peluang untuk berkembang menjadi bagian dari ekosistem olahraga yang lebih luas.

Pertanyaan Besarnya Bukan Siapa yang Juara

Ketika 42 kecamatan ikut bertanding, tentu persaingan menjadi bagian penting.

Ada yang pulang membawa kemenangan. Ada pula yang harus menerima kekalahan.

Namun, nilai terbesar FORKAB Garut 2026 justru bisa muncul setelah semua pertandingan selesai.

Berapa banyak anak dan warga yang kemudian tertarik berolahraga?

Berapa banyak pegiat potensial yang mendapatkan kesempatan untuk berkembang?

Berapa banyak olahraga tradisional yang kembali dimainkan setelah festival berakhir?

Dan yang tidak kalah penting, apakah setiap kecamatan kemudian memiliki agenda pembinaan olahraga masyarakat yang berjalan secara rutin?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menentukan apakah FORKAB hanya menjadi kalender tahunan atau benar-benar menjadi bagian dari sistem pembinaan olahraga masyarakat Garut.

Untuk saat ini, satu hal sudah terlihat jelas.

42 kecamatan telah turun ke satu panggung. Tinggal bagaimana Garut mengubah panggung itu menjadi jalan panjang menuju regenerasi.

Juara FORKAB mungkin hanya satu. Tetapi bibit olahraga yang lahir dari 42 kecamatan bisa jauh lebih banyak.

Sebab, kemenangan terbesar FORKAB Garut 2026 bukan ketika satu nama berdiri di podium.

Kemenangan sesungguhnya adalah ketika dari satu festival lahir generasi pegiat olahraga baru yang terus bergerak, bahkan setelah sorak penonton berhenti. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less