Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Data Stunting Ciamis Disorot, Herdiat Ungkap Persoalannya

Data Stunting Ciamis Disorot, Herdiat Ungkap Persoalannya

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 29 Sep 2026
  • visibility 59
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAH — Data stunting Ciamis kembali menjadi sorotan setelah Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji bertemu ribuan kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) di Kabupaten Ciamis. Dalam agenda tersebut, Bupati Ciamis Herdiat Sunarya mengungkap persoalan data stunting yang menjadi salah satu tantangan dalam menentukan intervensi di lapangan. Pemkab Ciamis – berita resmi

Persoalan ini menjadi penting karena kader TPK berhadapan langsung dengan keluarga yang membutuhkan pendampingan. Mereka berada di salah satu mata rantai penting yang menghubungkan kebijakan pemerintah dengan kondisi masyarakat di tingkat bawah.

Dengan demikian, pembahasan stunting tidak hanya berhenti pada pertanyaan mengenai berapa jumlah kasus. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: seberapa akurat data yang menjadi dasar pemerintah menentukan sasaran intervensi?

Bukan Sekadar Mengejar Angka

Stunting kerap dibahas melalui angka prevalensi. Padahal, pemerintah membutuhkan informasi yang lebih lengkap untuk memahami kondisi keluarga dan menentukan bentuk intervensi yang sesuai.

Data harus mampu membantu menjawab pertanyaan praktis: keluarga mana yang membutuhkan perhatian, persoalan apa yang mereka hadapi, dan layanan apa yang perlu diperkuat.

Dikutip dari Pemda Ciamis, Bupati Herdiat sebelumnya juga menyoroti persoalan perbedaan data stunting antarinstansi. Dalam pemberitaan pada Juli 2026, ia menyampaikan bahwa perbedaan data dapat menyulitkan pemerintah menentukan langkah intervensi dan berpotensi memengaruhi ketepatan sasaran program.

Konteks tersebut membuat persoalan data stunting Ciamis kembali relevan ketika ribuan kader TPK bertemu Menteri Wihaji.

Sebab, semakin dekat proses pendataan dengan kondisi nyata keluarga, semakin penting pula kualitas informasi yang masuk ke sistem pemerintah.

Ribuan Kader TPK Berada di Garis Depan

Kader TPK memiliki posisi strategis dalam pendampingan keluarga.

Mereka berinteraksi langsung dengan masyarakat. Karena itu, informasi dari lapangan dapat membantu pemerintah memahami kondisi keluarga secara lebih konkret.

Di titik inilah kualitas data menjadi penting.

Jika informasi yang dikumpulkan akurat dan terus diperbarui, pemerintah memiliki dasar yang lebih kuat untuk menentukan prioritas. Sebaliknya, perbedaan data dapat membuat proses penentuan sasaran menjadi lebih rumit.

Pertemuan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga), Dr. H. Wihaji, S.Ag., M.Pd. dengan ribuan kader TPK Ciamis karena itu memiliki konteks yang lebih luas daripada agenda seremonial.

Kehadiran para kader memperlihatkan bahwa penanganan stunting membutuhkan keterlibatan hingga tingkat keluarga. Kebijakan nasional dan daerah pada akhirnya harus bertemu dengan kondisi nyata masyarakat.

Mengapa Data Menentukan Arah Intervensi?

Stunting tidak muncul akibat satu faktor saja.

Pertumbuhan anak berkaitan dengan berbagai aspek, mulai dari asupan gizi, kesehatan, pola asuh, sanitasi, hingga kondisi sosial ekonomi keluarga. Karena itu, penanganannya membutuhkan koordinasi lintas sektor.

Data menjadi salah satu fondasi untuk menghubungkan kebutuhan tersebut.

Pemerintah dapat menjalankan banyak program. Namun, banyaknya program tidak otomatis membuat intervensi menjadi tepat apabila sasaran dan kondisi penerima tidak tergambar dengan baik.

Karena itu, persoalan data bukan sekadar urusan administrasi.

Data membantu pemerintah membaca kondisi masyarakat sebelum menentukan kebijakan. Dengan informasi yang lebih akurat, penentuan prioritas dapat dilakukan berdasarkan kondisi yang lebih terukur.

Ciamis Membutuhkan Data yang Saling Terhubung

Tantangan berikutnya adalah memastikan berbagai pihak memiliki gambaran yang konsisten mengenai kondisi keluarga.

Jika satu lembaga memiliki data berbeda dengan lembaga lain, pemerintah perlu mengetahui penyebabnya. Perbedaan tersebut dapat berkaitan dengan waktu pendataan, metode, sasaran, maupun proses pemutakhiran.

Karena itu, sinkronisasi tidak cukup dilakukan dengan mencocokkan angka.

Pemerintah juga perlu memastikan bahwa data yang dibandingkan memiliki objek, definisi, dan periode pengukuran yang jelas.

Langkah tersebut penting ketika data menjadi dasar penentuan penerima intervensi. Kesalahan sasaran dapat mengurangi efektivitas program, sementara data yang lebih akurat dapat membantu pemerintah memusatkan sumber daya pada keluarga yang memang membutuhkan.

Dalam proses tersebut, kader TPK memiliki peran penting.

Mereka berada di lapangan dan berinteraksi dengan keluarga. Informasi yang diperoleh dari pendampingan dapat menjadi bagian dari proses pemutakhiran data.

Dari Data Akurat Menuju Intervensi Tepat Sasaran

Penanganan stunting membutuhkan kerja jangka panjang. Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya mengejar penurunan angka pada satu periode.

Pemerintah juga perlu memastikan program benar-benar menjangkau keluarga yang membutuhkan.

Di sinilah kualitas data menjadi salah satu faktor penting.

Herdiat sebelumnya telah mengangkat isu perbedaan data sebagai bagian dari tantangan penyusunan kebijakan. Namun, perbedaan angka tidak otomatis berarti salah satu pihak keliru. Pemerintah perlu melihat sumber, metode, waktu pengumpulan, serta definisi yang digunakan sebelum menarik kesimpulan.

Sikap tersebut penting agar publik tidak membandingkan angka dari sumber berbeda secara langsung tanpa memahami konteksnya.

Pada akhirnya, tujuan pembenahan data bukan sekadar menghasilkan angka yang seragam. Tujuannya adalah membangun gambaran kondisi masyarakat yang dapat digunakan bersama untuk menentukan intervensi secara lebih tepat.

Persoalannya Bukan Sekadar Angka

Pertemuan Menteri Wihaji dengan ribuan kader TPK Ciamis kembali menempatkan persoalan data di tengah agenda penanganan stunting.

Bagi masyarakat, pembahasan tersebut mungkin terdengar teknis. Namun, dampaknya sangat nyata ketika data menjadi dasar untuk menentukan keluarga yang mendapat pendampingan dan program yang diberikan.

Karena itu, pembenahan data perlu berjalan beriringan dengan pendampingan keluarga.

Sebab, angka stunting hanya menjadi indikator. Di balik setiap angka ada anak, ada keluarga, dan ada kehidupan yang membutuhkan perhatian. Ketika datanya semakin akurat, pemerintah tidak sekadar menghitung masalah—pemerintah memiliki dasar yang lebih kuat untuk menemukan siapa yang benar-benar membutuhkan intervensi. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less