Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » 1.321 Kontak TB Ditelusuri di Ciamis, 21 Kasus Ditemukan

1.321 Kontak TB Ditelusuri di Ciamis, 21 Kasus Ditemukan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
  • visibility 32
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAH – TB Ciamis kini tidak hanya ditangani setelah pasien menerima diagnosis. Upaya deteksi dini TB bergerak lebih jauh dengan menelusuri kontak serumah dan kontak erat pasien untuk menemukan kasus lebih cepat sekaligus mencegah penularan berlanjut.

Langkah tersebut menjadi salah satu fokus kunjungan kerja Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Octavianus bersama Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus ke Kabupaten Ciamis, Senin (21/9/2026).

Namun, perhatian utama bukan sekadar kedatangan dua pejabat pemerintah pusat. Ada angka yang menunjukkan bagaimana penelusuran kontak bekerja di lapangan: 1.321 orang yang memiliki kontak dengan pasien TB menjalani proses pemeriksaan, dan 21 kasus TB ditemukan.

Dari 1.321 Kontak, 21 Kasus TB Ditemukan

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis menunjukkan penelusuran tersebut berasal dari tracing terhadap 365 kasus TB.

Dari 1.321 kontak yang teridentifikasi, sebanyak 486 orang menjalani skrining menggunakan X-ray. Selanjutnya, 400 orang masuk kategori terduga TB dan menjalani pemeriksaan diagnostik.

Hasil rangkaian pemeriksaan itu menemukan 21 kasus TB. Selain itu, petugas mengidentifikasi 31 orang yang memenuhi syarat untuk mendapatkan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).

Angka tersebut memperlihatkan mengapa pemeriksaan kontak erat menjadi bagian penting dalam penanganan TB.

Seseorang yang tinggal serumah atau memiliki kontak dekat dengan pasien tidak otomatis mengalami TB. Namun, kelompok tersebut perlu mendapat perhatian karena memiliki riwayat paparan yang membuat pemeriksaan menjadi penting.

Karena itu, strategi tracing TB Ciamis diarahkan untuk menemukan kasus sedini mungkin, bukan sekadar menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan setelah mengalami keluhan.

CKG Diperluas untuk Menemukan Kasus Lebih Awal

Penelusuran TB di Ciamis juga terhubung dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Pemkab Ciamis melaporkan pelaksanaan Active Case Finding atau ACF TB yang terintegrasi dengan CKG pada 13 Juli hingga 18 September 2026 telah menjangkau sekitar 18.000 peserta di 180 lokus. Dari jumlah tersebut, 16.746 peserta tercatat dalam Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB).

Integrasi tersebut membuat pemeriksaan kesehatan tidak berhenti pada pemeriksaan umum. Ketika terdapat indikasi atau riwayat kontak yang perlu ditindaklanjuti, masyarakat dapat diarahkan menuju proses skrining dan pemeriksaan TB.

Pola seperti ini penting karena penanganan TB membutuhkan pencarian kasus secara aktif.

Dengan begitu, layanan kesehatan tidak hanya menunggu pasien datang. Petugas juga bergerak mendekati kelompok yang memiliki risiko atau riwayat kontak.

D'Arrian Collections

Pekerjaan Tidak Berhenti Setelah Kasus Ditemukan

Menemukan 21 kasus TB dari penelusuran kontak merupakan bagian penting. Namun, pekerjaan berikutnya justru menentukan keberlanjutan program.

Pasien yang terdiagnosis perlu segera mendapatkan pengobatan sesuai prosedur. Sementara itu, kontak yang memenuhi kriteria TPT membutuhkan tindak lanjut. Petugas juga perlu memastikan kepatuhan pengobatan dan melakukan pemantauan secara berkala.

Dinas Kesehatan Ciamis menyebut penelusuran kontak akan terus diperkuat melalui puskesmas, posyandu, posbindu, pustu, serta pelayanan di tingkat desa. Petugas juga melakukan penelusuran dari rumah ke rumah.

Dengan demikian, penanganan TB Ciamis mulai dibangun melalui rantai layanan yang lebih panjang: menemukan kontak, melakukan skrining, memastikan diagnosis, memberikan pengobatan atau pencegahan sesuai indikasi, kemudian mendampingi masyarakat selama proses tersebut.

Model ini sekaligus menempatkan keluarga dan lingkungan sekitar pasien sebagai bagian dari sistem pencegahan.

Desa dan Kelurahan Ikut Memegang Peran

Penguatan penanganan TB juga masuk ke tingkat desa dan kelurahan.

Dalam kunjungan tersebut, Pemkab Ciamis memperkuat komitmen melalui Deklarasi Desa dan Kelurahan Siaga Tuberkulosis. Program itu mencakup penemuan kasus, edukasi, pencegahan, investigasi kontak, pemeriksaan, pengobatan, pemberian TPT sesuai indikasi, serta pendampingan pasien.

Selain itu, deklarasi tersebut menekankan pentingnya mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap pasien TB.

Hal ini tidak kalah penting. Penanganan penyakit menular membutuhkan keterlibatan masyarakat, tetapi pendekatannya tetap harus menjaga martabat pasien. Informasi mengenai penyakit juga perlu disampaikan secara benar agar masyarakat tidak mengucilkan orang yang sedang menjalani pengobatan.

Di sisi lain, pemerintah daerah masih menghadapi kebutuhan penguatan sarana pelayanan kesehatan. Pemkab Ciamis berharap dukungan pemerintah pusat dapat membantu meningkatkan kualitas puskesmas dan puskesmas pembantu agar pelayanan kesehatan semakin dekat dengan masyarakat.

Setelah Kunjungan Pejabat, Ujian Sebenarnya Dimulai

Kunjungan Wamenkes dan Wamendagri memberikan momentum bagi Ciamis untuk memperkuat koordinasi lintas sektor. Namun, ukuran keberhasilannya tidak berhenti pada forum, deklarasi, atau dokumentasi kegiatan.

Pekerjaan sebenarnya berlangsung setelah agenda selesai.

Puskesmas perlu menindaklanjuti temuan. Kader harus membantu menghubungkan masyarakat dengan layanan kesehatan. Pemerintah desa dan kelurahan perlu ikut menggerakkan warga yang memiliki riwayat kontak agar menjalani pemeriksaan.

Pada saat yang sama, keluarga pasien membutuhkan informasi yang tepat agar tidak takut melakukan pemeriksaan.

Karena itu, deteksi dini TB harus menjadi kebiasaan dalam sistem pelayanan, bukan hanya kegiatan ketika ada kunjungan pejabat.

Jika penelusuran kontak mampu berjalan konsisten, kasus dapat ditemukan lebih cepat dan langkah pengobatan maupun pencegahan dapat segera dilakukan.

Sebab, melawan TB bukan hanya soal menemukan orang yang sudah sakit. Tantangan terbesarnya adalah menemukan penularan sedini mungkin, sebelum satu kasus berkembang menjadi rantai baru di rumah, keluarga, dan lingkungan. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less