Ribuan Santri Tasikmalaya Kirab Bawa Potret Ulama
- account_circle redaktur
- calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
- visibility 23
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ribuan santri membawa potret ulama dan pendiri pesantren saat kirab Hari Santri Nasional 2026 di Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (21/10/2026).(Dok. Pemkab Tasikmalaya).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH — Ribuan santri dari berbagai pondok pesantren di Kabupaten Tasikmalaya mengikuti kirab Hari Santri Nasional 2026 dengan membawa potret ulama dan pendiri pesantren, Selasa (20/10/2026). Lebih dari sekadar pawai, kegiatan ini menjadi pengingat atas perjuangan para ulama dalam mewariskan ilmu, membangun pendidikan Islam, dan membentuk karakter generasi penerus.
Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin bersama Wakil Bupati Asep Sopari Al-Ayubi turut mengikuti kirab dari kawasan Pondok Pesantren Cipasung menuju kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya. Setibanya di lokasi, para peserta melanjutkan rangkaian kegiatan dengan berselawat bersama.
Kehadiran potret ulama menjadi salah satu bagian penting dalam kirab tersebut. Simbol itu menghubungkan perayaan Hari Santri dengan sejarah pesantren di Tasikmalaya sekaligus mengingatkan generasi muda agar meneruskan nilai keilmuan dan pengabdian para pendahulu.
Potret Ulama Menghidupkan Sejarah Pesantren
Para santri membawa potret sejumlah ulama sepuh dan pendiri pesantren di Tasikmalaya. Di antara tokoh yang ditampilkan terdapat KH Zaenal Musthafa, pahlawan nasional yang dikenal melalui perjuangannya melawan penjajahan dan perannya dalam pendidikan pesantren.
Potret para ulama bukan sekadar pelengkap acara. Kehadirannya menjadi simbol penghormatan kepada tokoh yang mewariskan tradisi keilmuan, keteguhan prinsip, dan pengabdian kepada masyarakat.
Tasikmalaya memiliki sejarah panjang dalam perkembangan pendidikan Islam. Karena itu, mengenalkan tokoh pesantren kepada generasi muda menjadi salah satu cara merawat ingatan kolektif tentang perjalanan keagamaan dan sosial masyarakat setempat.
Namun, penghormatan kepada ulama tidak cukup berhenti pada kegiatan seremonial. Nilai perjuangan mereka perlu diteruskan melalui kesungguhan belajar, akhlak, kepedulian sosial, serta kontribusi nyata bagi lingkungan.
Bupati Tasikmalaya Tekankan Ilmu dan Teknologi
Dalam sambutannya, Bupati Cecep Nurul Yakin menyampaikan bahwa kirab santri bukan sekadar pawai. Kegiatan tersebut mencerminkan perjalanan sejarah, semangat perjuangan, persatuan, dan pengabdian ulama serta santri kepada agama, bangsa, dan negara.
Ia juga menekankan bahwa pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, kemajuan membutuhkan manusia yang beriman, berilmu, berkarakter, dan memiliki kepedulian sosial.
Cecep berharap pesantren di Kabupaten Tasikmalaya terus melahirkan generasi yang memiliki pemahaman agama mendalam, wawasan luas, kecakapan teknologi, jiwa kewirausahaan, serta semangat pengabdian kepada masyarakat.
Harapan tersebut menunjukkan bahwa pesantren menghadapi tantangan untuk menjaga tradisi keilmuan sekaligus menyiapkan santri menghadapi perubahan zaman. Teknologi dapat mendukung proses belajar dan memperluas akses pengetahuan, sedangkan pendidikan karakter tetap menjadi bekal penting dalam menggunakannya secara bertanggung jawab.
Dengan perpaduan tersebut, santri berpeluang berkontribusi dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan dan kegiatan sosial hingga kewirausahaan dan pengembangan ekonomi masyarakat.
Pesantren Punya Peran dalam Menyiapkan Generasi Masa Depan
Perubahan teknologi turut mengubah cara masyarakat belajar, bekerja, dan berkomunikasi. Oleh sebab itu, santri perlu memiliki kemampuan digital yang memadai tanpa meninggalkan nilai agama dan etika.
Kemampuan menggunakan teknologi dapat membantu santri mengakses sumber belajar, menghasilkan karya, dan memperluas jangkauan dakwah. Selain itu, keterampilan kewirausahaan dapat mendukung kemandirian ekonomi serta membuka peluang usaha.
Meski demikian, kecakapan digital harus berjalan bersama kemampuan berpikir kritis dan memeriksa informasi. Kecepatan memperoleh jawaban tidak selalu menjamin kebenaran, sementara kemudahan teknologi tidak menggantikan proses belajar yang mendalam.
Karena itu, pengembangan kapasitas santri membutuhkan dukungan berkelanjutan dari pesantren, pemerintah daerah, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut dapat memperluas kesempatan belajar serta membantu santri mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Hari Santri Harus Melampaui Seremoni
Kirab pada 20 Oktober 2026 merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional tingkat Kabupaten Tasikmalaya. Kegiatan ini melibatkan santri dan santriwati dari berbagai pesantren, bersama unsur pemerintah daerah, tokoh keagamaan, serta perwakilan organisasi terkait.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut memperlihatkan hubungan erat antara pesantren dan kehidupan masyarakat. Pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga berperan dalam membangun karakter dan menumbuhkan kepedulian sosial.
Tantangan berikutnya ialah menjaga agar semangat peringatan berlanjut menjadi kegiatan yang memberi manfaat nyata. Penguatan kualitas pendidikan, keterampilan digital, kewirausahaan, dan pengabdian masyarakat dapat menjadi bagian dari upaya tersebut.
Pada akhirnya, warisan ulama akan tetap hidup ketika generasi penerus tidak hanya mengenang nama dan perjuangan mereka, tetapi juga meneruskan nilai keilmuan serta keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Kirab boleh berakhir di halaman pemerintahan, tetapi perjuangan santri tidak berhenti di garis finis. Menghormati ulama berarti menjaga ilmunya, meneruskan akhlaknya, dan membuktikan manfaatnya bagi masa depan masyarakat. (Red)
- Penulis: redaktur
