Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Program BTQ Banjar Diuji Langsung, Siswa Kelas 5 Baca Al-Qur’an

Program BTQ Banjar Diuji Langsung, Siswa Kelas 5 Baca Al-Qur’an

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Rabu, 7 Okt 2026
  • visibility 34
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAH — Program BTQ Banjar kembali dipantau untuk melihat perkembangan kemampuan siswa dalam membaca Al-Qur’an. Wakil Wali Kota Banjar, Dr. H. Supriana, M.Pd., melakukan monitoring sekaligus menguji kemampuan membaca Al-Qur’an siswa kelas 5 SDN 2 Banjar, Selasa (6/10/2026).

Dalam kegiatan tersebut, siswa dipanggil satu per satu untuk membaca ayat Al-Qur’an di hadapan Wakil Wali Kota. Pengujian langsung itu menjadi bagian dari evaluasi perkembangan kemampuan siswa setelah mengikuti Program Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ).

Dikutip dari Pemkot Banjar, monitoring berkala dilakukan untuk melihat perkembangan pelaksanaan program sekaligus memastikan kegiatan BTQ berjalan secara optimal.

Siswa Diuji Satu per Satu

Monitoring Program BTQ kali ini tidak berhenti pada pengecekan pelaksanaan kegiatan di sekolah. Kemampuan siswa dalam membaca Al-Qur’an juga menjadi perhatian.

Satu per satu siswa mendapat kesempatan membaca ayat Al-Qur’an secara langsung. Dari proses tersebut, perkembangan kemampuan siswa dapat menjadi bagian dari bahan evaluasi program.

Pola evaluasi semacam itu penting karena pembelajaran BTQ membutuhkan proses. Kemampuan setiap siswa juga dapat berkembang dengan kecepatan yang berbeda.

Karena itu, pengujian secara berkala dapat membantu sekolah melihat perkembangan kemampuan membaca Al-Qur’an dari waktu ke waktu.

Selain itu, hasil evaluasi dapat menjadi bahan untuk menentukan bagian pembelajaran yang masih perlu diperkuat.

Program BTQ Banjar Menargetkan Generasi Muda

Wakil Wali Kota Banjar menekankan bahwa kemampuan membaca Al-Qur’an pada anak membutuhkan dukungan banyak pihak.

Sekolah dan guru memiliki peran dalam proses pembelajaran. Sementara itu, orang tua dan lingkungan masyarakat dapat memperkuat kebiasaan belajar anak di luar sekolah.

“Saya yakin, melalui program ini dapat memutus buta huruf Al Quran bagi generasi muda Kota Banjar. Saya akan kembali mengetes adik-adik semua untuk mengecek progres kalian,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa monitoring tidak diarahkan sebagai kegiatan sekali selesai. Wakil Wali Kota juga menyampaikan rencana untuk kembali melakukan pengujian guna melihat perkembangan siswa.

Dengan demikian, evaluasi menjadi bagian dari proses untuk mengikuti perubahan kemampuan siswa, bukan sekadar kegiatan seremonial.

Monitoring Berkala Jadi Bagian Evaluasi

Pembelajaran membaca Al-Qur’an membutuhkan latihan dan pendampingan secara berkelanjutan. Karena itu, pemantauan secara berkala dapat membantu melihat perkembangan siswa secara lebih konkret.

Dalam Program BTQ Banjar, kemampuan membaca menjadi salah satu hal yang dapat diamati melalui praktik langsung.

Siswa tidak hanya mengikuti pembelajaran, tetapi juga mendapat kesempatan menunjukkan kemampuan mereka saat evaluasi.

Bagi guru, proses tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kebutuhan pendampingan berikutnya. Selanjutnya, pembelajaran dapat diarahkan sesuai perkembangan masing-masing siswa.

Namun, data mengenai tingkat peningkatan kemampuan siswa, jumlah siswa yang sudah mencapai target, maupun persentase keberhasilan program belum disampaikan dalam informasi kegiatan tersebut.

Karena itu, perkembangan program masih perlu dilihat melalui evaluasi yang dilakukan secara berkelanjutan.

Sekolah dan Orang Tua Sama-Sama Berperan

Kemampuan membaca Al-Qur’an tidak hanya dibentuk selama jam pembelajaran di sekolah.

Dukungan keluarga juga memiliki peran penting dalam menjaga kebiasaan belajar anak. Orang tua dapat mendampingi anak membaca Al-Qur’an di rumah, sedangkan guru memberikan penguatan melalui proses pembelajaran di sekolah.

Lingkungan masyarakat pun dapat ikut menciptakan suasana yang mendukung pendidikan keagamaan.

Kolaborasi tersebut menjadi penting karena target program tidak hanya berkaitan dengan terlaksananya kegiatan BTQ. Kemampuan siswa juga perlu terus berkembang melalui pembelajaran dan latihan yang konsisten.

Karena itu, monitoring Wakil Wali Kota di SDN 2 Banjar menjadi salah satu bentuk pengecekan terhadap perkembangan pelaksanaan program.

Bukan Sekadar Program, Tetapi Perkembangan Kemampuan

Pelaksanaan Program BTQ Banjar kini tidak hanya berbicara mengenai kegiatan pembelajaran. Pengujian langsung terhadap siswa menunjukkan adanya perhatian terhadap perkembangan kemampuan membaca Al-Qur’an.

Evaluasi berikutnya akan menjadi bagian penting untuk melihat apakah kemampuan siswa terus berkembang setelah mendapatkan pembelajaran.

Pada saat yang sama, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menjaga kesinambungan proses tersebut.

Program yang berjalan secara konsisten membutuhkan evaluasi yang konsisten pula. Dengan begitu, perkembangan siswa dapat dilihat berdasarkan proses, bukan hanya berdasarkan pelaksanaan kegiatan.

Sebab, ukuran paling penting dari sebuah program BTQ bukan sekadar apakah kegiatannya terlaksana, tetapi apakah kemampuan membaca Al-Qur’an siswa benar-benar terus berkembang. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less