Zuhud di Era Digital: Saat Semua Orang Terlihat Lebih Berhasil
- account_circle redaktur
- calendar_month Sabtu, 3 Okt 2026
- visibility 59
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi zuhud di era digital, seseorang merenung di tengah paparan media sosial dan gaya hidup konsumtif.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kita tidak selalu iri. Kadang kita hanya melihat.
Namun, dari melihat, muncul keinginan. Dari keinginan, lahir perbandingan. Lalu tanpa sadar, hidup sederhana mulai terasa seperti tanda bahwa kita belum cukup berhasil.
Ironisnya, lima menit sebelum membuka media sosial, kita mungkin baik-baik saja dengan kehidupan sendiri.
Di sinilah pembahasan zuhud dalam Islam menjadi menarik. Bukan karena Islam memerintahkan manusia meninggalkan dunia, melainkan karena manusia perlu bertanya: apakah kita sedang memiliki dunia, atau dunia mulai menguasai hati kita?
Zuhud Bukan Lomba Menjadi Miskin
Ketika mendengar kata zuhud, sebagian orang mungkin langsung membayangkan kehidupan yang serba terbatas. Seolah-olah seseorang baru bisa disebut zuhud ketika ia tidak memiliki harta, tidak menikmati kenyamanan, dan menjauh dari berbagai fasilitas dunia.
Pemahaman seperti itu terlalu sederhana.
Al-Qur’an dalam QS Al-Qasas ayat 77 justru mengajarkan manusia agar menggunakan apa yang Allah berikan untuk mencari kehidupan akhirat, tanpa melupakan bagian yang wajar dari kehidupan dunia. Karena itu, zuhud bukan berarti membenci harta.
Seseorang boleh bekerja keras.
Boleh membangun usaha.
Boleh memiliki rumah yang nyaman.
Boleh memakai pakaian yang baik.
Boleh menikmati perjalanan.
Bahkan, seseorang boleh memperoleh keberhasilan materi selama ia tidak menjadikan dunia sebagai ukuran mutlak kemuliaan dan pusat seluruh orientasi hidupnya.
Jadi, persoalannya bukan semata-mata berapa banyak yang kita punya.
Persoalannya adalah seberapa besar apa yang kita punya menguasai hati kita.
Ketika Layar Membuat Kita Selalu Merasa Kurang
Media sosial tidak selalu menciptakan kesombongan atau iri hati. Namun, cara kita menggunakannya dapat membuat perbandingan sosial berlangsung jauh lebih sering.
Dalam satu sesi, kita dapat melihat seseorang membeli rumah.
Geser layar.
Orang lain berlibur ke luar negeri.
Geser lagi.
Ada yang menunjukkan omzet bisnis.
Berikutnya, seseorang memamerkan kendaraan baru.
Lalu kita berhenti pada layar dan bertanya:
“Kapan hidup saya bisa seperti mereka?”
Padahal kita tidak mengetahui seluruh cerita di balik foto tersebut.
Kita tidak tahu utang seseorang.
Kita tidak tahu kegagalannya.
Kita tidak tahu kecemasannya.
Kita hanya melihat bagian yang memang ingin ia tampilkan.
Karena itu, zuhud di era digital bukan berarti memusuhi teknologi. Tantangannya justru bagaimana menggunakan teknologi tanpa membiarkan kehidupan orang lain menjadi penggaris untuk menilai kehidupan sendiri.
QS An-Nisa ayat 32 mengingatkan agar manusia tidak sibuk menginginkan kelebihan yang Allah berikan kepada sebagian orang atas sebagian yang lain. Al-Qur’an kemudian mengarahkan manusia untuk memohon karunia Allah.
Pesan ini relevan ketika layar membuat kita terus melihat kelebihan orang lain.
Kita tetap boleh terinspirasi.
Kita boleh belajar.
Kita boleh meningkatkan kualitas hidup.
Namun, inspirasi berbeda dengan iri, dan ikhtiar berbeda dengan obsesi untuk mengejar kehidupan orang lain.
Al-Hadid: 20 dan Perlombaan yang Tidak Punya Garis Finis
Menariknya, problem semacam ini bukan sepenuhnya produk zaman digital.
QS Al-Hadid ayat 20 menggambarkan kehidupan dunia melalui permainan, kesenangan, perhiasan, saling berbangga, serta perlombaan memperbanyak harta dan anak.
Al-Qur’an kemudian menggambarkan dunia seperti tanaman yang tumbuh subur, lalu mengering dan akhirnya hancur.
Gambaran tersebut tidak secara khusus berbicara tentang media sosial. Namun, prinsipnya relevan ketika manusia menjadikan dunia sebagai arena perlombaan tanpa batas.
Hari ini kita mengejar barang tertentu.
Besok muncul barang yang lebih baru.
Hari ini kita mengejar jumlah pengikut.
Besok angka itu terasa kurang.
Hari ini sebuah pencapaian membuat kita bahagia.
Besok pencapaian orang lain membuat kebahagiaan itu terasa kecil.
Masalahnya bukan selalu karena kita memiliki terlalu sedikit. Bisa jadi karena standar “cukup” terus berpindah.
Itulah sebabnya zuhud memiliki relevansi yang kuat dalam kehidupan modern.
Zuhud mengajarkan jarak batin.
Dunia boleh berada di tangan.
Namun, jangan sampai dunia mengambil seluruh ruang di hati.
Takatsur: Ketika “Lebih Banyak” Menjadi Tujuan
Surah At-Takatsur bahkan membuka pembahasannya dengan peringatan tentang takatsur, yaitu berlomba memperbanyak sesuatu hingga manusia terlena.
Konteks ayat tersebut tentu bukan media sosial modern. Namun, istilah “berlomba memperbanyak” terasa dekat dengan budaya angka yang kita kenal hari ini.
Lebih banyak uang.
Lebih banyak barang.
Lebih banyak pengikut.
Lebih banyak penonton.
Lebih banyak komentar.
Lebih banyak pengakuan.
Angka memang dapat berguna.
Dalam bisnis, angka membantu mengukur performa. Dalam pekerjaan, angka dapat menunjukkan pencapaian. Dalam media sosial, angka menjadi bagian dari analitik.
Namun, angka tidak otomatis menjadi ukuran nilai seseorang di hadapan Allah.
Di sinilah muhasabah diperlukan.
Ketika angka naik, apakah kita bersyukur?
Ketika angka turun, apakah harga diri ikut runtuh?
Jika jawabannya mulai mengarah ke yang kedua, mungkin masalahnya bukan pada angka.
Mungkin hati kita terlalu lama menitipkan nilainya kepada penilaian manusia.
Dari FOMO dan Flexing, Kita Sampai pada Zuhud
Pembahasan ini sebenarnya masih menjadi bagian dari rangkaian problem kehidupan digital yang telah dibahas AlbadarPost.
Dalam artikel FOMO dalam Islam: Ketika Takut Ketinggalan Mengalahkan Rasa Syukur, persoalannya adalah rasa takut tertinggal ketika melihat kehidupan orang lain.
Sementara dalam Flexing dalam Islam, perhatian diarahkan pada fenomena ketika kekayaan atau pencapaian mulai membutuhkan penonton.
Sebelumnya, artikel Validasi Sosial dalam Islam membahas bagaimana respons manusia dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya.
Kini, pembahasannya bergerak satu tingkat lebih dalam.
Bagaimana jika kita tidak lagi hanya mengejar pengakuan, tetapi belajar melepaskan ketergantungan hati terhadapnya?
Di sinilah zuhud menjadi penting.
Bukan sebagai gaya hidup untuk dipamerkan.
Bukan pula sebagai identitas baru agar terlihat lebih saleh.
Sebab jika kesederhanaan pun kita tampilkan demi mendapatkan pujian, kita hanya mengganti bentuk pencarian pengakuan.
Dulu ingin dipuji karena kemewahan.
Sekarang ingin dipuji karena kesederhanaan.
Tetap saja yang dicari adalah tepuk tangan.
Lima Muhasabah untuk Hidup di Era Digital
Pertama, tanyakan kebutuhan sebelum mengikuti keinginan.
Jika sebuah barang tidak pernah terasa penting sebelum melihat unggahan orang lain, mungkin keinginan itu lahir dari perbandingan.
Kedua, jangan jadikan kehidupan orang lain sebagai standar tunggal keberhasilan.
Setiap orang memiliki kondisi, amanah, kemampuan, dan perjalanan yang berbeda.
Ketiga, latih diri menikmati sesuatu tanpa selalu mengunggahnya.
Tidak semua kebahagiaan membutuhkan penonton.
Keempat, bedakan qanaah dari kemalasan.
Qanaah bukan alasan untuk berhenti berusaha. Kita tetap boleh mengejar kehidupan yang lebih baik sambil menerima karunia Allah dengan lapang.
Kelima, periksa hati setelah mendapatkan sesuatu.
Apakah kita semakin bersyukur atau semakin membutuhkan pengakuan?
Apakah harta membuat kita semakin bermanfaat atau semakin sibuk membuktikan diri?
Pertanyaan sederhana seperti itu dapat menjadi latihan muhasabah di tengah derasnya arus digital.
Zuhud Bukan Menolak Dunia, Melainkan Menempatkannya
Zuhud tidak mengharuskan manusia membuang ponsel, menolak teknologi, atau hidup tanpa kenyamanan.
Zuhud juga tidak identik dengan kemiskinan.
Yang lebih penting adalah kemampuan menempatkan dunia sesuai porsinya.
Seseorang dapat memiliki banyak harta dan tetap menjaga hatinya.
Sebaliknya, seseorang dapat memiliki sedikit harta tetapi pikirannya sepanjang hari dikuasai keinginan untuk memiliki lebih banyak.
Karena itu, ukuran zuhud tidak cukup dilihat dari isi rumah.
Kita perlu melihat arah hati.
QS Al-Hadid ayat 23 juga mengingatkan manusia agar tidak berlebihan larut dalam kesedihan atas sesuatu yang luput dan tidak tenggelam dalam kebanggaan atas apa yang diberikan Allah.
Pesan tersebut terasa penting di tengah budaya digital yang terus memperlihatkan pencapaian orang lain.
Hari ini kita mungkin melihat seseorang mendapatkan sesuatu yang belum kita miliki.
Besok, orang itu mungkin juga melihat kehidupan orang lain yang belum ia miliki.
Jika semua orang terus melihat ke atas, perlombaan tidak akan selesai.
Maka, mungkin latihan zuhud yang paling relevan bukan mengurangi semua yang kita punya.
Melainkan belajar berhenti menghitung milik orang lain.
Kita hidup di zaman ketika kesederhanaan kadang dianggap kurang berhasil, sedangkan kemewahan mudah mendapatkan perhatian.
Namun, hidup bukan panggung yang harus terus membuktikan sesuatu.
Kita tidak perlu memiliki semua yang sedang tren.
Tidak perlu mengubah setiap keberhasilan menjadi pertunjukan.
Tidak perlu menjadikan kehidupan orang lain sebagai laporan keuangan untuk mengukur nilai diri sendiri.
Sebab pada akhirnya, zuhud bukan tentang seberapa sedikit dunia berada di tangan kita.
Zuhud adalah ketika dunia boleh berada di tangan, tetapi tidak berhasil mengambil alih hati.
Dan mungkin, di tengah zaman yang terus berteriak “lebih banyak, lebih mahal, lebih terkenal”, kemampuan berkata “Allah sudah memberi saya cukup untuk bersyukur hari ini” justru menjadi salah satu bentuk kemerdekaan hati yang paling mahal. (Red)
- Penulis: redaktur






