Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Serumah tapi Jarang Bicara? Saat Gawai Mengambil Perhatian

Serumah tapi Jarang Bicara? Saat Gawai Mengambil Perhatian

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Minggu, 27 Sep 2026
  • visibility 93
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

AlbadarPost.com, HIKMAH — Komunikasi suami istri tidak selalu terganggu karena pertengkaran. Dalam kehidupan sehari-hari, jarak juga dapat muncul ketika pasangan lebih sering memberikan perhatian kepada layar dibandingkan kepada orang yang berada di sebelahnya. Komunikasi rumah tangga pun bisa berkurang ketika penggunaan gawai mulai mengambil ruang untuk berbicara, mendengar, dan saling memperhatikan.

Situasinya sederhana.

Suami pulang bekerja, lalu membuka ponsel. Istri menyelesaikan pekerjaan rumah, kemudian melihat media sosial. Keduanya duduk di ruang yang sama, tetapi perhatian berjalan ke arah berbeda.

Tentu saja, kondisi tersebut tidak otomatis berarti rumah tangga sedang bermasalah.

Gawai telah menjadi bagian dari kehidupan modern. Perangkat ini membantu pekerjaan, komunikasi, pendidikan, hingga akses terhadap informasi keagamaan. Persoalannya muncul ketika penggunaan teknologi mulai mengurangi kesempatan pasangan untuk hadir secara utuh bagi satu sama lain.

Dalam keluarga Islami, perhatian semacam itu memiliki tempat penting.

Islam Menempatkan Pernikahan pada Kasih Sayang dan Ketenteraman

Al-Qur’an menggambarkan pernikahan sebagai hubungan yang menghadirkan ketenteraman.

Allah SWT berfirman dalam QS Ar-Rum ayat 21 bahwa Dia menciptakan pasangan agar manusia memperoleh ketenteraman dan menjadikan di antara pasangan mawaddah serta rahmah.

Ayat tersebut tentu tidak berbicara secara langsung tentang smartphone atau media sosial. Namun, prinsip yang terkandung di dalamnya memberi gambaran tentang tujuan relasi suami istri: membangun hubungan yang memiliki ketenteraman, kasih sayang, dan rahmat.

Karena itu, komunikasi dalam rumah tangga tidak sebatas pertukaran informasi.

Ada perhatian di dalamnya.

Ada kesediaan mendengar.

Ada ruang untuk memahami perasaan pasangan.

Bahkan, percakapan singkat setelah menjalani hari yang melelahkan dapat menjadi bagian kecil dari upaya menjaga kedekatan tersebut.

Bukan Gawainya yang Menjadi Masalah

Islam tidak memberikan larangan khusus terhadap penggunaan telepon pintar karena teknologi tersebut memang belum ada pada masa Nabi Muhammad SAW.

Karena itu, kurang tepat jika setiap penggunaan gawai dalam keluarga langsung dianggap bertentangan dengan ajaran Islam.

Konteksnya perlu dilihat.

Jika seseorang menggunakan ponsel untuk bekerja, belajar, berkomunikasi dengan orang tua, mencari ilmu, atau keperluan bermanfaat lainnya, penggunaannya memiliki tujuan yang jelas.

Namun, situasinya berbeda ketika seseorang terus menatap layar saat pasangan sedang berbicara.

Pada titik tersebut, persoalannya bukan lagi sekadar teknologi.

Persoalannya adalah perhatian.

Apakah pasangan merasa didengar?

Apakah percakapan mendapat ruang?

Apakah seseorang bersedia meletakkan ponselnya ketika orang terdekat membutuhkan perhatian?

Pertanyaan tersebut jauh lebih relevan daripada sekadar menghitung berapa jam seseorang menggunakan gawai.

Nabi Mengingatkan Pentingnya Kebaikan kepada Keluarga

Ada satu prinsip penting dalam hadis Nabi Muhammad SAW tentang kehidupan keluarga.

Dalam hadis riwayat Jami’ at-Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang paling baik adalah orang yang paling baik kepada keluarganya. Rasulullah SAW juga menyebut dirinya sebagai orang yang paling baik kepada keluarganya.

Hadis tersebut memberikan ukuran yang sederhana.

Kualitas seseorang tidak hanya terlihat ketika berada di hadapan banyak orang. Rumah menjadi salah satu ruang penting untuk melihat bagaimana seseorang memperlakukan orang-orang terdekatnya.

Karena itu, mendengarkan pasangan dengan sungguh-sungguh dapat menjadi bagian dari akhlak dalam keluarga.

Tidak harus selalu berupa nasihat panjang.

Terkadang, cukup dengan menghentikan aktivitas sejenak, menyimpan ponsel, kemudian mendengarkan sampai pasangan selesai berbicara.

Komunikasi Suami Istri Tidak Selalu Membutuhkan Percakapan Panjang

Ada anggapan bahwa komunikasi yang baik berarti pasangan harus berbicara setiap saat.

Tidak demikian.

Kualitas komunikasi lebih penting daripada jumlah percakapan.

Seorang istri mungkin bercerita tentang pekerjaan rumah, anak, atau sesuatu yang membuat pikirannya penuh. Ia belum tentu membutuhkan solusi.

Bisa jadi ia hanya ingin didengarkan.

Begitu pula suami yang pulang dengan beban pekerjaan. Ia mungkin tidak membutuhkan ceramah atau nasihat. Kadang, pertanyaan sederhana seperti “Hari ini bagaimana?” sudah membuka ruang yang cukup untuk berbicara.

Dengan demikian, komunikasi rumah tangga dapat tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil.

Mendengar tanpa memotong.

Bertanya tanpa menghakimi.

Menjawab tanpa meremehkan.

Dan yang tidak kalah penting, memberikan perhatian ketika pasangan sedang berbicara.

Membuat Ruang Tanpa Layar

Solusi keluarga bukan berarti harus meninggalkan gawai.

Yang lebih realistis adalah membuat kesepakatan bersama.

Misalnya, pasangan dapat menentukan waktu tertentu tanpa layar ketika makan, setelah salat, sebelum tidur, atau ketika salah satu sedang membicarakan persoalan penting.

Aturan tersebut tidak perlu sama untuk setiap keluarga.

Kondisi pekerjaan, usia anak, kebutuhan komunikasi, dan aktivitas masing-masing pasangan tentu berbeda.

Namun, satu prinsip dapat dijaga: kesepakatan harus berlaku secara timbal balik.

Jika suami meminta istri mengurangi penggunaan ponsel saat berbicara, suami juga perlu melakukan hal yang sama.

Begitu pula sebaliknya.

Dengan cara itu, aturan tidak berubah menjadi alat untuk mengontrol pasangan. Sebaliknya, kesepakatan menjadi bentuk saling menghormati.

Keluarga Sakinah Tidak Dibangun oleh Layar

Keluarga sakinah tidak selalu terlihat dari foto keluarga, unggahan media sosial, atau kata-kata romantis yang dibagikan kepada publik.

Banyak hal penting justru berlangsung dalam kesunyian rumah.

Ada suami yang memilih mendengar ketika istrinya sedang lelah.

Ada istri yang memberi kesempatan kepada suaminya untuk beristirahat setelah bekerja.

Ada pasangan yang memilih berbicara baik-baik ketika muncul perbedaan.

Ada pula momen ketika keduanya sengaja meletakkan ponsel agar bisa menikmati waktu bersama.

Tidak ada kamera yang merekam semuanya.

Tidak ada jumlah tanda suka yang mengukur nilainya.

Namun, perhatian seperti itulah yang dapat membantu menjaga kedekatan.

Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Dampaknya terhadap keluarga sangat bergantung pada cara manusia menggunakannya.

Karena itu, persoalan gawai dalam rumah tangga sebaiknya tidak dipahami sebagai pertarungan antara teknologi dan keluarga.

Yang perlu dijaga adalah ruang untuk hadir bagi pasangan.

Saat Layar Perlu Diletakkan

Ada waktu untuk bekerja.

Ada waktu untuk belajar.

Ada waktu untuk membuka media sosial.

Namun, ada pula waktu untuk menatap pasangan dan benar-benar mendengarkan.

Dalam perspektif keluarga Islami, menjaga komunikasi bukan berarti harus berbicara tanpa henti. Yang lebih penting adalah menghadirkan perhatian, menjaga adab, dan memperlakukan pasangan dengan baik.

Sebab, rumah bukan hanya tempat dua orang tinggal bersama.

Rumah adalah tempat dua hati belajar saling memahami.

Jangan sampai dua orang yang duduk berdampingan setiap malam justru semakin jauh karena perhatian mereka selalu tertuju pada layar. Sesekali, letakkan ponsel—lalu dengarkan orang yang memilih pulang dan tinggal bersama kita. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less