Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Hadis Menuntut Ilmu: Pesan Rasulullah untuk Santri Era Digital

Hadis Menuntut Ilmu: Pesan Rasulullah untuk Santri Era Digital

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 20 Okt 2026
  • visibility 27
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH — Hadis menuntut ilmu mengingatkan umat Islam bahwa belajar bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan, tetapi juga membentuk akhlak dan menghadirkan manfaat bagi sesama. Menjelang Hari Santri 2026, pesan Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Muslim relevan dengan tantangan santri masa kini: bagaimana mencari ilmu secara benar ketika informasi begitu mudah ditemukan, tetapi kebenarannya belum tentu terjamin?

Pertanyaan ini semakin penting di tengah derasnya arus informasi digital. Akses internet memang membuka kesempatan belajar yang luas. Namun, tanpa ketelitian, seseorang dapat menerima informasi keliru, memahami kutipan di luar konteks, atau menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.

Karena itu, tradisi keilmuan pesantren memiliki relevansi besar dalam membangun kebiasaan belajar yang tekun, menghormati sumber pengetahuan, dan mengamalkan ilmu secara bertanggung jawab.

Hadis Menuntut Ilmu HR Muslim dan Artinya

Rasulullah SAW bersabda:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Artinya:

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”

Kutipan tersebut merupakan bagian dari hadis riwayat Abu Hurairah dalam Sahih Muslim nomor 2699a. Riwayat lengkapnya juga membahas pertolongan kepada sesama, kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan, dan keutamaan berkumpul untuk membaca serta mempelajari Al-Qur’an.

Hadis ini menegaskan keutamaan perjalanan mencari ilmu. Namun, pesannya tidak berarti seseorang otomatis memperoleh jaminan masuk surga hanya karena belajar. Pencarian ilmu perlu disertai niat yang baik, cara yang benar, serta upaya mengamalkan pengetahuan sesuai tuntunan agama.

Dengan demikian, belajar bukan hanya tentang seberapa banyak seseorang mengetahui sesuatu. Lebih penting lagi, bagaimana pengetahuan itu membentuk perilaku, memperkuat tanggung jawab, dan mendorong kebaikan.

Al-Qur’an Menegaskan Kedudukan Orang Berilmu

Selain hadis, Al-Qur’an menjelaskan keutamaan ilmu dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11. Allah SWT berfirman:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ

Artinya, Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.

Ayat tersebut menunjukkan kedudukan penting ilmu dalam kehidupan seorang Muslim. Meski demikian, pengetahuan perlu berjalan bersama iman, akhlak, dan tanggung jawab. Kepandaian tanpa integritas dapat merugikan orang lain, sedangkan ilmu yang diamalkan dengan benar dapat membantu menyelesaikan persoalan masyarakat.

Oleh sebab itu, pendidikan pesantren tidak cukup berhenti pada hafalan atau penguasaan kitab. Santri juga perlu memahami pelajaran, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dan menerapkan ilmu untuk menjawab kebutuhan zaman tanpa meninggalkan prinsip agama.

Tantangan Santri: Memilah Informasi di Era Digital

Internet memudahkan santri mempelajari ilmu agama, sains, teknologi, dan berbagai bidang lainnya. Namun, kemudahan tersebut juga membawa risiko. Potongan ceramah tanpa konteks, kutipan hadis tanpa rujukan, dan kabar yang belum terverifikasi dapat membingungkan masyarakat.

Dalam situasi ini, semangat menuntut ilmu perlu tercermin melalui kebiasaan memeriksa sumber sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi. Ketika menemukan kutipan agama di media sosial, misalnya, pembaca dapat menelusuri kitab atau sumber tepercaya untuk memastikan teks dan konteksnya. Begitu pula saat menerima kabar tentang seseorang atau suatu peristiwa, verifikasi perlu mendahului penyebaran.

Santri juga dapat memanfaatkan teknologi untuk memperluas manfaat pengetahuan. Mereka bisa mengembangkan materi pembelajaran digital, membantu masyarakat memahami informasi publik, atau mendukung usaha kecil melalui keterampilan digital.

Dengan begitu, teknologi tidak sekadar menjadi sarana konsumsi konten, tetapi juga alat untuk belajar dan mengabdi. Kemampuan digital harus berjalan bersama adab, ketelitian, dan tanggung jawab. Sebab, kecepatan memperoleh informasi tidak boleh mengalahkan ketepatan memahami kebenaran.

Hari Santri 2026: Ilmu untuk Menguatkan Negeri

Kementerian Agama menetapkan tema Hari Santri 2026, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.” Upacara peringatan tahun ini dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 22 Oktober 2026.

Dalam panduan resminya, Kementerian Agama menekankan peran santri dalam pembangunan bangsa melalui penguatan ilmu, karakter, penguasaan teknologi, kemandirian ekonomi, dan kepedulian sosial. Informasi lebih lengkap tersedia dalam panduan resmi Hari Santri 2026.

Tema tersebut memberi konteks aktual untuk membaca kembali hadis tentang menuntut ilmu. Santri tidak hanya memiliki tanggung jawab menjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi juga mempersiapkan diri menghadapi persoalan masyarakat. Bekal ilmu agama, keterampilan, penguasaan teknologi, dan kepedulian sosial dapat saling melengkapi.

Momentum Hari Santri pun dapat menjadi kesempatan bagi pesantren, pendidik, keluarga, dan masyarakat untuk memperkuat budaya belajar. Kebiasaan membaca, berdiskusi dengan santun, memeriksa sumber, menghormati guru, serta membantu orang lain merupakan bagian dari upaya membangun generasi berilmu.

Ilmu Harus Berujung pada Manfaat

Hadis riwayat Muslim nomor 2699a mengajak umat Islam menghargai proses mencari ilmu. Perjalanan tersebut membutuhkan ketekunan, kerendahan hati, dan kesediaan memperbaiki pemahaman ketika menemukan kekeliruan.

Bagi santri, semangat itu dapat diwujudkan melalui kesungguhan belajar, ketelitian menggunakan sumber digital, dan pengabdian kepada masyarakat. Masyarakat luas pun dapat menerapkannya dengan tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas serta terus membuka diri terhadap pengetahuan yang benar.

Pada akhirnya, keberhasilan belajar bukan hanya tentang banyaknya informasi yang tersimpan dalam ingatan. Ilmu menemukan makna terbesarnya ketika membuat seseorang lebih bijak, lebih bertanggung jawab, dan lebih bermanfaat bagi sesama. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less