Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Rabiul Akhir 1448 H Segera Tiba, Adakah Amalan Khusus?

Rabiul Akhir 1448 H Segera Tiba, Adakah Amalan Khusus?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Sabtu, 12 Sep 2026
  • visibility 67
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

AlbadarPost.com | HIKMAHRabiul Akhir 1448 H segera tiba. Berdasarkan pengumuman Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU), 1 Rabiul Akhir 1448 H jatuh pada Ahad, 13 September 2026 M, berdasarkan metode istikmal setelah hilal tidak berhasil terlihat pada 11 September 2026.

Memasuki bulan baru dalam kalender Hijriah, muncul pertanyaan yang cukup penting: adakah amalan Rabiul Akhir yang secara khusus dianjurkan dalam Islam?

Jawabannya perlu disampaikan secara hati-hati.

Rabiul Akhir merupakan bulan keempat dalam kalender Hijriah. Namun, tidak setiap bulan Hijriah memiliki ritual ibadah khusus. Karena itu, umat Islam tetap dapat memperbanyak amal saleh pada Rabiul Akhir, tetapi tidak sepatutnya menetapkan salat, puasa, doa, bacaan, jumlah rakaat, atau keutamaan pahala tertentu sebagai ritual khusus Rabiul Akhir tanpa dalil yang dapat dipertanggungjawabkan.

Tidak Ada Ritual Khusus Rabiul Akhir

Hal pertama yang perlu diluruskan adalah perbedaan antara memperbanyak ibadah pada Rabiul Akhir dan menganggap suatu ibadah sebagai amalan khusus Rabiul Akhir.

Keduanya tidak sama.

Tidak ada dasar yang kuat untuk mengatakan bahwa umat Islam wajib atau disunnahkan melakukan ritual tertentu hanya karena memasuki Rabiul Akhir. Sejumlah kajian keislaman juga menempatkan Rabiul Akhir sebagai bulan yang tidak memiliki ritual khusus seperti Ramadan atau Dzulhijjah.

Namun, hal tersebut bukan berarti umat Islam tidak boleh meningkatkan ibadah.

Justru, berbagai ibadah yang memiliki dasar umum dalam syariat tetap dapat diperbanyak.

Prinsipnya adalah: ibadah yang memang disyariatkan tetap dikerjakan, tetapi jangan diberi status khusus tanpa dalil.

1. Memperbanyak Dzikir

Salah satu amalan yang dapat diperbanyak kapan saja adalah dzikir.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah dengan mengingat-Nya sebanyak-banyaknya.”

(QS Al-Ahzab: 41)

Ayat tersebut menunjukkan anjuran memperbanyak dzikir tanpa membatasi perintah tersebut hanya pada bulan tertentu.

Karena itu, memasuki Rabiul Akhir dapat menjadi momentum untuk memperbaiki kebiasaan berdzikir, memperbanyak istighfar, tasbih, tahmid, takbir, tahlil, serta doa.

Yang perlu dihindari adalah membuat klaim bahwa bacaan tertentu pada tanggal tertentu di Rabiul Akhir memiliki pahala khusus jika tidak ada dalil yang mendukungnya.

2. Membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an juga merupakan amal saleh yang dapat dilakukan sepanjang waktu.

Rabiul Akhir dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperbaiki kembali rutinitas membaca Al-Qur’an.

Tidak harus langsung memasang target yang sangat tinggi. Membaca beberapa halaman secara konsisten setiap hari dapat menjadi langkah yang lebih realistis.

Dengan demikian, membaca Al-Qur’an pada Rabiul Akhir merupakan ibadah yang dianjurkan berdasarkan keumuman syariat, bukan ritual khusus bulan tersebut.

Pembedaan ini penting agar pembaca tidak salah memahami kedudukan suatu amalan.

3. Memperbanyak Sedekah

Sedekah juga tidak terbatas pada bulan tertentu.

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 261 tentang perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menghasilkan tujuh bulir, dan setiap bulir memiliki seratus biji.

Ayat tersebut menjadi salah satu dasar mengenai keutamaan infak di jalan Allah.

Karena itu, Rabiul Akhir dapat dijadikan momentum untuk meningkatkan kepedulian kepada sesama.

Sedekah tidak selalu berarti memberikan uang dalam jumlah besar. Membantu orang yang kesulitan, memberi makanan, membantu tetangga, atau meringankan beban orang lain juga merupakan bentuk kepedulian sosial.

4. Berbakti kepada Orang Tua

Ibadah juga tercermin melalui hubungan dengan manusia.

Allah SWT memerintahkan manusia untuk menyembah-Nya dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Dalam QS Al-Isra ayat 23, Allah bahkan melarang perkataan yang menunjukkan kejengkelan kepada keduanya dan memerintahkan agar berbicara dengan perkataan yang mulia.

Karena itu, memasuki Rabiul Akhir dapat menjadi momentum untuk mengevaluasi hubungan dengan orang tua.

Menghubungi mereka, membantu kebutuhannya, menjaga perkataan, meminta maaf, atau memberikan perhatian merupakan bentuk amal yang memiliki dasar syariat.

Sekali lagi, bukan karena Rabiul Akhir mempunyai ritual khusus, melainkan karena berbakti kepada orang tua memang diperintahkan dalam Islam.

5. Puasa Senin-Kamis Tetap Bisa Dilakukan

Bagaimana dengan puasa?

Umat Islam tetap dapat menjalankan puasa sunnah pada Rabiul Akhir selama sesuai dengan ketentuan syariat.

Salah satunya adalah puasa Senin dan Kamis.

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa amal-amal diperlihatkan pada Senin dan Kamis, dan beliau menyukai ketika amalnya diperlihatkan dalam keadaan berpuasa.

Dengan demikian, seseorang boleh berpuasa Senin-Kamis ketika memasuki Rabiul Akhir.

Namun, penyebutannya harus tepat:

itu adalah puasa Senin-Kamis, bukan puasa khusus Rabiul Akhir.

Perbedaan istilah tersebut penting agar informasi keagamaan tidak bergeser dari dasar aslinya.

6. Puasa Ayyamul Bidh Juga Berlaku

Puasa tiga hari setiap bulan juga memiliki dasar dalam hadis.

Dalam Sahih al-Bukhari 1981, Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW memberikan wasiat untuk berpuasa tiga hari setiap bulan, melaksanakan salat Dhuha dua rakaat, dan mengerjakan salat Witir sebelum tidur.

Dalam tradisi fikih, tiga hari tersebut dikenal sebagai Ayyamul Bidh, yakni tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah.

Jika tanggal tersebut jatuh pada Rabiul Akhir, umat Islam tetap dapat menjalankan puasa Ayyamul Bidh.

Tetapi keutamaannya berasal dari sunnah puasa tiga hari setiap bulan, bukan karena Rabiul Akhir mempunyai keistimewaan khusus untuk puasa tersebut.

7. Jangan Membuat Ritual Tanpa Dalil

Bagian ini penting di tengah banyaknya informasi keagamaan di media sosial.

Tidak sedikit pesan berantai yang berisi daftar amalan lengkap dengan tanggal, jumlah bacaan, tata cara, dan klaim pahala tertentu.

Informasi seperti itu sebaiknya tidak langsung diterima sebagai ajaran agama.

Sebelum menyebarkannya, periksa terlebih dahulu:

  • Apa sumber dalilnya?
  • Apakah hadisnya dapat dipertanggungjawabkan?
  • Apakah amalan tersebut benar-benar berasal dari Nabi Muhammad SAW?
  • Apakah keutamaan yang disebutkan memang terdapat dalam sumbernya?
  • Apakah ulama menjelaskan amalan tersebut sebagai ibadah khusus?

Kehati-hatian semacam ini bukan berarti mengurangi semangat beribadah.

Sebaliknya, hal itu membantu umat Islam membedakan antara ibadah yang memiliki landasan dan informasi keagamaan yang belum jelas sumbernya.

Rabiul Akhir Bisa Menjadi Momentum Muhasabah

Pergantian bulan Hijriah juga dapat menjadi momentum untuk melakukan muhasabah.

Sudahkah salat lebih terjaga?

Apakah membaca Al-Qur’an sudah menjadi kebiasaan?

Bagaimana hubungan dengan orang tua?

Apakah masih menyimpan dendam kepada orang lain?

Apakah sebagian rezeki sudah dibagikan kepada mereka yang membutuhkan?

Pertanyaan seperti itu justru dapat membuat datangnya bulan baru memiliki makna.

Rabiul Akhir tidak harus diisi dengan ritual baru. Memperbaiki ibadah yang sudah memiliki dasar justru lebih penting daripada mencari amalan khusus yang belum jelas dalilnya.

Perbanyak Amal, Jangan Mengada-adakan Kekhususan

Jadi, adakah amalan khusus Rabiul Akhir?

Jawabannya, tidak ada dasar yang kuat untuk menetapkan ritual ibadah tertentu sebagai ritual khusus Rabiul Akhir hanya karena bulan tersebut memiliki nama tersendiri.

Namun, umat Islam tetap dapat memperbanyak amal saleh.

Dzikir memiliki dasar dalam Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an merupakan amal saleh. Sedekah dan berbakti kepada orang tua memiliki landasan syariat. Puasa Senin-Kamis dan Ayyamul Bidh juga memiliki dasar dalam hadis.

Semua itu boleh dilakukan pada Rabiul Akhir karena memang merupakan ibadah yang dianjurkan secara umum.

Yang perlu dihindari adalah mengubah ibadah umum menjadi ritual khusus tanpa dalil yang jelas.

Dengan demikian, memasuki Rabiul Akhir 1448 H bukan tentang mencari sebanyak mungkin ritual baru.

Yang lebih penting adalah memperbanyak amal yang jelas tuntunannya, memperbaiki kualitas ibadah, dan menjadikan pergantian bulan sebagai momentum untuk menjadi pribadi yang lebih baik. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less