Keledai Penggilingan dan Manusia yang Tak Pernah Sampai
- account_circle redaktur
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seekor keledai berjalan memutar di penggilingan batu tua, sementara rantai putus di dekat kakinya sebagai lambang lepas dari belenggu dunia.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH — Puncak segala tujuan bukanlah jabatan, kekayaan, ketenaran, ataupun pujian manusia. Tujuan hidup kepada Allah itulah pesan yang berulang kali diajarkan para ulama. Namun, mengapa begitu banyak orang merasa hidupnya terus maju, padahal sesungguhnya hanya berputar di tempat?
Bayangkan seekor keledai yang sejak pagi menarik batu penggilingan. Langkahnya tak pernah berhenti. Debu beterbangan. Nafasnya tersengal. Dari kejauhan ia tampak bekerja keras. Akan tetapi, ketika matahari tenggelam, ia justru berdiri di titik yang sama.
Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari memilih gambaran itu untuk menyentil manusia.
Satirnya sederhana, tetapi sulit dibantah.
“Jangan berpindah dari satu alam ke alam yang lain sehingga engkau seperti keledai penggilingan. Ia berjalan, tetapi kembali ke tempat semula. Berangkatlah dari seluruh alam menuju Sang Pencipta alam. Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah puncak segala tujuan.”
Firman Allah SWT:
وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الْمُنتَهَىٰ
“Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah puncak segala tujuan.” (QS An-Najm: 42)
Boleh jadi, yang berubah selama ini hanya tujuan dunia yang kita kejar. Hatinya belum pernah benar-benar bergerak.
Dunia Tidak Pernah Datang dengan Wajah yang Sama
Hari ini dunia mengetuk pintu melalui uang.
Besok ia memakai jas jabatan.
Lusa ia datang membawa popularitas.
Ketika semua itu gagal memikat, dunia mengenakan pakaian yang jauh lebih rapi. Ia menyelinap lewat mimbar dakwah, lewat amal saleh, lewat sedekah, bahkan lewat ibadah.
Di situlah satir Al-Hikam terasa begitu tajam.
Tidak semua orang yang rajin beribadah benar-benar sedang menuju Allah.
Ada yang mengejar penghormatan.
Ada yang ingin disebut alim.
Ada yang ingin dipandang dermawan.
Ada pula yang berharap segala amal menjadi jalan tercepat memperoleh kekayaan atau kedudukan.
Secara lahiriah semuanya tampak mulia.
Namun pusat perjalanannya belum berubah.
Allah belum menjadi tujuan.
Allah hanya dijadikan jalan.
Padahal Al-Qur’an menegaskan:
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”
(QS Al-Bayyinah: 5)
Kesibukan Belum Tentu Menunjukkan Arah
Fenomena itu sangat mudah ditemukan.
Seseorang berpindah pekerjaan karena berharap hidup lebih baik.
Setelah gajinya naik, ia mengejar rumah.
Rumah tercapai, muncul target kendaraan.
Setelah kendaraan terbeli, lahir ambisi jabatan.
Jabatan diraih, giliran penghargaan.
Begitu seterusnya.
Daftar keinginan terus bertambah.
Sementara daftar rasa cukup semakin pendek.
Ironisnya, pola yang sama juga bisa terjadi dalam urusan ibadah.
Hari ini seseorang mengejar pujian.
Besok ia menghindari pujian.
Namun kemudian muncul keinginan baru agar dikenal sebagai orang yang paling ikhlas.
Hawa nafsu ternyata sangat kreatif mencari pintu masuk.
Karena itulah Imam Ibnu Athaillah mengingatkan agar manusia tidak sekadar berpindah dari satu “alam” menuju “alam” lainnya.
Yang harus berubah bukan objek yang dikejar.
Melainkan arah hati.
Riya yang Kasar Mudah Terlihat, yang Halus Justru Berbahaya
Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan bahwa ada syirik yang begitu halus sehingga sering tidak disadari.
Beliau bersabda:
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.”
Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu?”
Beliau menjawab,
“Riya.”
(HR Ahmad)
Riya tidak selalu tampil dalam bentuk yang kasar.
Kadang ia berbisik pelan.
Ia membuat seseorang rajin beribadah agar dipuji.
Jika pujian tidak datang, ia kecewa.
Jika sanjungan berkurang, semangatnya ikut turun.
Ketika itulah manusia sebenarnya masih berjalan mengelilingi penggilingan yang sama.
Nabi Isa Mengajukan Pertanyaan yang Sulit Dijawab
Dalam syarah Al-Hikam diceritakan bahwa Nabi Isa a.s. pernah bertanya kepada para Hawariyyin.
“Semua kenikmatan yang kalian rasakan berasal dari Allah. Lalu manakah yang lebih bernilai, pemberian-Nya atau Dzat yang memberi?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Namun semakin dipikirkan, semakin mengguncang.
Banyak orang sibuk menghitung nikmat.
Sedikit yang sibuk mengenal Pemberi nikmat.
Padahal nikmat akan selesai.
Sedangkan Allah Mahakekal.
Jangan Hanya Ganti Target, Ubah Arah Perjalanan
Mungkin inilah kritik paling halus dalam Al-Hikam.
Masalah terbesar manusia bukan karena ia berjalan terlalu lambat.
Masalahnya, ia sering salah arah.
Ia mengganti pekerjaan.
Ia mengganti rumah.
Ia mengganti kendaraan.
Ia bahkan mengganti cara beribadah.
Namun orientasi hidupnya tetap sama.
Dunia.
Keikhlasan bukan berarti dilarang berharap rezeki, kesehatan, atau kemudahan hidup.
Islam justru mengajarkan umatnya untuk berdoa dan berikhtiar.
Akan tetapi, semua itu tidak boleh menggantikan posisi Allah sebagai tujuan utama.
Allah SWT berfirman:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS Az-Zariyat: 56)
Ketika Allah menjadi pusat orientasi, pekerjaan berubah menjadi ibadah.
Ilmu berubah menjadi cahaya.
Harta menjadi amanah.
Jabatan menjadi tanggung jawab.
Popularitas berubah menjadi ujian.
Segala sesuatu kembali menemukan tempatnya.
Pulang Sebelum Langkah Kehabisan Arah
Mungkin hari ini kita tampak sibuk.
Kalender penuh.
Agenda padat.
Target terus bertambah.
Namun Al-Hikam mengajukan satu pertanyaan yang tidak pernah usang.
Setelah semua langkah itu, sebenarnya kita sedang menuju siapa?
Sebab perjalanan hidup tidak dinilai dari panjangnya jalan yang ditempuh, melainkan dari arah yang dipilih.
Orang yang berjalan perlahan menuju Allah jauh lebih dekat daripada orang yang berlari mengejar dunia tanpa tujuan yang benar.
Keledai penggilingan tidak pernah salah karena memang tidak mengenal tujuan. Yang patut takut justru manusia yang mengira dirinya sudah dekat dengan Allah, padahal yang berubah hanya daftar ambisinya. Jangan hanya mengganti impian. Gantilah arah hati. Sebab ketika napas terakhir tiba, dunia berhenti di belakang, sementara perjalanan menuju Allah baru benar-benar dimulai. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar