Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Kitab Al-Hikam: Sindiran Telak bagi Pemburu Dunia

Kitab Al-Hikam: Sindiran Telak bagi Pemburu Dunia

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 20 Okt 2026
  • visibility 30
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH — Kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah menghadirkan renungan tentang zuhud dan kehidupan akhirat yang terasa relevan di tengah kehidupan modern. Pesannya menohok: manusia sering menganggap dunia begitu dekat, tetapi memperlakukan akhirat seolah-olah masih sangat jauh. Kita sibuk merancang masa depan, menghitung kekayaan, dan mengejar pencapaian, tetapi kerap lupa menyiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian.

Lihatlah kebiasaan sehari-hari. Seseorang rela bekerja hingga larut malam demi promosi, menabung bertahun-tahun untuk membeli rumah, bahkan menyusun target keuangan sampai usia pensiun. Semua itu wajar. Namun, persoalan muncul ketika urusan dunia menyita seluruh perhatian, sedangkan ibadah, kejujuran, dan tanggung jawab kepada sesama hanya memperoleh sisa waktu.

Seolah-olah umur memiliki tombol jeda. Seolah-olah kematian harus membuat janji sebelum datang.

Di sinilah pesan tasawuf memberikan tamparan bagi siapa pun yang merasa masih memiliki banyak waktu.

Makna Kitab Al-Hikam tentang Dunia dan Akhirat

Salah satu hikmah Ibnu Athaillah berbunyi:

الطَّيُّ الْحَقِيقِيُّ أَنْ تَطْوِيَ مَسَافَةَ الدُّنْيَا عَنْكَ حَتَّى تَرَى الْآخِرَةَ أَقْرَبَ إِلَيْكَ مِنْكَ

Artinya:

“Pelipatan yang hakiki ialah ketika engkau melipat jarak dunia darimu sehingga engkau melihat akhirat lebih dekat kepadamu daripada dirimu sendiri.”

Ungkapan tersebut membicarakan ath-thayyu al-haqiqi, yakni pelipatan yang hakiki. Maknanya tidak sekadar menyangkut perjalanan luar biasa atau jarak geografis yang menyusut. Sebaliknya, penjelasan dalam syarah Al-Hikam mengarahkan pembaca pada perubahan pandangan batin terhadap dunia dan akhirat.

Ketika keyakinan seseorang semakin kuat, ia tidak lagi menjadikan dunia sebagai tujuan terakhir. Ia menyadari bahwa kehidupan sekarang bersifat sementara dan setiap manusia perlu mempersiapkan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Karena itu, ukuran keberhasilan tidak cukup berupa jabatan, kekayaan, atau pengakuan masyarakat. Cara memperoleh harta, tanggung jawab dalam pekerjaan, serta manfaat yang diberikan kepada orang lain juga penting.

Dunia Bukan Musuh, tetapi Ambisi Bisa Menyesatkan

Zuhud bukan berarti meninggalkan pekerjaan, menolak kekayaan, atau menjauhi keluarga. Islam tidak melarang manusia membangun usaha, memperbaiki taraf hidup, maupun meraih keberhasilan.

Sebaliknya, manusia perlu bekerja dengan sungguh-sungguh sekaligus menjaga batas moral. Harta dapat menjadi sarana kebaikan ketika pemiliknya menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membantu sesama, dan menjalankan kewajiban.

Masalah muncul ketika ambisi berubah menjadi penguasa hati.

Seseorang mungkin mengorbankan waktu bersama keluarga demi keuntungan tanpa batas. Orang lain bisa menghalalkan segala cara untuk mempertahankan jabatan. Bahkan, ada yang menilai keberhasilan hanya dari apa yang terlihat oleh orang lain.

Akibatnya, pencapaian terus bertambah, tetapi rasa cukup tidak kunjung datang.

Ironisnya, manusia sering takut kehilangan kesempatan memperoleh uang, tetapi tidak selalu khawatir kehilangan kesempatan berbuat baik. Padahal, waktu yang berlalu tidak bisa kita panggil kembali.

Pesan Kitab Al-Hikam mengajak kita mengembalikan dunia ke tempat yang semestinya: sebagai sarana menjalani kehidupan, bukan tujuan yang menghabiskan seluruh perhatian.

Al-Qur’an Mengingatkan bahwa Dunia Bersifat Sementara

Allah SWT berfirman dalam QS Ali Imran ayat 185:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Artinya, “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.”

Ayat ini mengingatkan manusia agar tidak tertipu oleh kenikmatan sementara. Bukan berarti seluruh kesenangan dunia buruk, melainkan manusia perlu menyadari keterbatasannya.

Allah juga berfirman dalam QS Al-Ankabut ayat 64:

وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Artinya, “Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.”

Kedua ayat tersebut memberikan landasan bagi renungan tentang prioritas hidup. Kita tetap perlu memenuhi kebutuhan dunia, tetapi jangan sampai kesibukan membuat kita melupakan iman, amal saleh, dan tanggung jawab moral.

Dengan demikian, kesadaran akan akhirat semestinya mendorong seseorang bekerja lebih jujur, memperlakukan orang lain dengan baik, serta menggunakan hartanya secara bertanggung jawab.

Rasulullah Mengajarkan Sikap Seorang Pengembara

Rasulullah SAW memberikan pedoman tentang cara memandang kehidupan dunia melalui hadis riwayat Bukhari nomor 6416:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

Artinya, “Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang pengembara.”

Seorang pengembara memanfaatkan tempat persinggahan tanpa menganggapnya sebagai tujuan akhir. Demikian pula seorang mukmin perlu menjalani kehidupan dengan sungguh-sungguh tanpa melupakan pertanggungjawaban atas perbuatannya.

Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan sekadar berapa banyak kekayaan yang berhasil dikumpulkan. Kita juga perlu bertanya: apakah cara mendapatkannya benar, apakah manfaatnya dirasakan orang lain, dan apakah kesibukan tersebut membuat kita semakin bertanggung jawab?

Pertanyaan semacam ini membantu manusia menilai pencapaian secara lebih utuh. Selain mengejar hasil, ia juga memperhatikan proses dan dampaknya.

Jangan Menunggu Kehilangan untuk Mengingat Akhirat

Kesadaran tentang akhirat tidak seharusnya baru muncul ketika seseorang menghadapi penyakit, kehilangan pekerjaan, atau ditinggalkan orang terdekat. Momen sulit memang dapat menggugah hati, tetapi manusia tidak perlu menunggu musibah untuk memperbaiki diri.

Mulailah dari hal yang nyata. Tunaikan kewajiban tepat waktu, jaga kejujuran dalam mencari nafkah, hindari merugikan orang lain, dan gunakan kesempatan hidup untuk memberikan manfaat.

Selain itu, evaluasi kembali tujuan yang selama ini kita kejar. Apakah target tersebut membantu menjalani kehidupan dengan lebih baik, atau justru menghabiskan waktu tanpa memberi ruang bagi keluarga, ibadah, dan kepedulian sosial?

Pada akhirnya, zuhud bukan tentang seberapa sedikit harta yang dimiliki. Zuhud berkaitan dengan bagaimana seseorang menempatkan dunia di dalam hatinya dan mengarahkan kehidupan kepada kebaikan.

Dunia boleh menjadi bagian penting dalam perencanaan, tetapi jangan menjadikannya satu-satunya tujuan kehidupan.

Kita sibuk memastikan masa depan dunia tetap terjamin, tetapi sering lupa bahwa perjalanan menuju akhirat terus berjalan—bahkan ketika kita merasa belum waktunya berangkat. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less