Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Bukan Sepanjang Hari, Ini Waktu Istimewa untuk Berdoa di Hari Jumat

Bukan Sepanjang Hari, Ini Waktu Istimewa untuk Berdoa di Hari Jumat

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
  • visibility 58
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Ada satu hal yang membuat doa hari Jumat layak mendapat perhatian khusus. Nabi Muhammad ﷺ menyebut adanya satu waktu pada hari Jumat ketika seorang Muslim memohon kebaikan kepada Allah dan memperoleh apa yang dimintanya. Hadis tentang waktu mustajab Jumat itu juga menggambarkan waktunya sebagai sesuatu yang singkat.

Artinya, Jumat bukan sekadar pergantian kalender menuju akhir pekan.

Ada momentum ibadah yang perlu dicari.

Menariknya, Nabi ﷺ tidak memberikan satu angka jam yang bisa langsung ditulis di kalender. Justru di situlah persoalannya menjadi menarik. Para ulama membahas beberapa riwayat mengenai kapan sa’ah atau waktu istimewa tersebut terjadi.

Nabi ﷺ Menyebut Ada Waktu Singkat pada Hari Jumat

Dalam Sahih Muslim 852a, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ menyebut adanya suatu waktu pada hari Jumat ketika seorang Muslim berdoa dan meminta sesuatu yang baik kepada Allah, lalu Allah memberikannya. Perawi juga menggambarkan bahwa Nabi ﷺ memberi isyarat dengan tangan mengenai singkatnya waktu tersebut. (Sunnah)

Riwayat Sahih Muslim 852b menyampaikan makna yang serupa. Dalam hadis tersebut, permohonan yang disebut secara khusus adalah permintaan terhadap kebaikan, dan Nabi ﷺ kembali memberi isyarat bahwa waktu itu sempit atau singkat.

Dengan demikian, ada dasar hadis yang kuat untuk menjadikan doa hari Jumat sebagai perhatian khusus.

Namun, ada satu hal yang harus digarisbawahi.

Hadis tersebut tidak menyebut satu jam tertentu seperti pukul 16.00, 17.00, atau 17.30.

Karena itu, artikel tentang waktu mustajab Jumat sebaiknya tidak membuat klaim seolah-olah Nabi ﷺ telah menetapkan satu angka jam yang berlaku secara mutlak.

Justru pembahasan para ulama menjadi penting pada bagian ini.

DenLegal

Kapan Waktu Mustajab Jumat?

Salah satu riwayat penting terdapat dalam Sahih Muslim 853.

Dalam hadis tersebut, Abu Musa al-Asy’ari menjelaskan bahwa waktu istimewa itu berada antara saat imam duduk hingga salat Jumat selesai.

Jika mengikuti riwayat ini, maka seorang Muslim memiliki kesempatan untuk memperbanyak doa dalam rangkaian pelaksanaan salat Jumat, terutama ketika imam telah duduk di mimbar hingga salat selesai.

Tetapi bukan hanya pendapat tersebut yang menjadi perhatian.

Ada riwayat lain yang secara khusus menunjuk bagian terakhir hari Jumat setelah salat Ashar.

Dalam Sunan Abi Dawud 1048, Jabir bin Abdullah meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ menyebut adanya satu waktu pada hari Jumat ketika seorang Muslim meminta sesuatu kepada Allah dan Allah memberikannya. Nabi ﷺ kemudian mengarahkan umat untuk mencarinya pada bagian terakhir setelah Ashar. Riwayat tersebut tercantum sebagai hadis 1048 dan dinilai sahih oleh Al-Albani pada sumber yang dirujuk.

Inilah yang membuat pembahasan waktu mustajab Jumat tidak bisa disederhanakan menjadi satu angka di jam.

Ada beberapa riwayat yang menjadi dasar pembahasan ulama.

Setelah Ashar, Mengapa Banyak Orang Memperhatikannya?

Pendapat mengenai waktu setelah Ashar menarik karena berada di penghujung hari Jumat.

Kesibukan mulai mereda. Aktivitas harian perlahan selesai. Matahari bergerak menuju terbenam. Pada saat itulah seorang Muslim dapat mengambil waktu untuk berhenti sejenak dan memperbanyak doa.

Tidak perlu menunggu doa yang panjang.

Tidak harus menggunakan kalimat yang rumit.

Seseorang dapat memohon ampunan, kesehatan, keselamatan, rezeki yang halal, keteguhan iman, kebaikan keluarga, atau pertolongan menghadapi persoalan hidup.

Namun, ada satu prinsip yang perlu dijaga.

Jangan mengubah hadis menjadi rumus matematika.

Artinya, jangan mengatakan bahwa seseorang yang berdoa pada menit tertentu pasti mendapatkan persis apa yang ia minta dengan cara yang ia bayangkan.

Hadis memberikan kabar tentang keutamaan suatu waktu.

Sementara itu, Allah tetap menjadi Zat yang menentukan bagaimana doa seorang hamba dijawab.

Jangan Hanya Menunggu Satu Jam

Karena terdapat beberapa riwayat mengenai waktu tersebut, sikap yang lebih hati-hati adalah tidak mengabaikan salah satunya.

Muslim 853 menunjukkan rentang antara imam duduk hingga salat Jumat selesai. Sementara itu, Abu Dawud 1048 mengarahkan pencarian waktu tersebut pada bagian terakhir setelah Ashar.

Dengan demikian, seorang Muslim tidak perlu berpikir bahwa jika ia gagal menemukan satu menit tertentu, seluruh kesempatan Jumat telah hilang.

Sebaliknya, ia dapat memperbanyak doa sepanjang Jumat dan memberi perhatian khusus pada waktu-waktu yang disebut dalam hadis.

Cara ini juga lebih aman secara ilmiah dan keagamaan karena tidak memaksakan satu pendapat sebagai satu-satunya tafsir.

Apa yang Sebaiknya Diminta dalam Doa?

Riwayat Muslim 852b secara khusus menyebut permohonan terhadap kebaikan.

Karena itu, seseorang dapat menggunakan kesempatan tersebut untuk memohon berbagai kebaikan yang halal dan bermanfaat.

Mintalah ampunan.

Mintalah keteguhan iman.

Mintalah kesehatan dan keselamatan.

Mintalah rezeki yang halal dan berkah.

Mintalah kebaikan bagi keluarga.

Mintalah pertolongan ketika menghadapi kesulitan.

Dan jangan lupa mendoakan kebaikan bagi orang lain.

Yang terpenting, jangan menjadikan doa sebagai transaksi.

“Saya sudah berdoa, maka Allah harus memberikan persis seperti yang saya minta.”

Cara berpikir seperti itu justru mengerdilkan makna doa.

Doa merupakan bentuk penghambaan, ketundukan, dan pengharapan kepada Allah.

Jumat Bukan Sekadar Menunggu Magrib

Al-Qur’an juga memberikan gambaran tentang bagaimana seorang Muslim menjalani Jumat.

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.”

(QS Al-Jumu’ah: 9)

Ayat tersebut menunjukkan perhatian khusus terhadap salat Jumat dan dzikrullah. Setelah itu, QS Al-Jumu’ah ayat 10 mengarahkan manusia untuk kembali bertebaran di bumi mencari karunia Allah sambil tetap banyak mengingat-Nya.

Pesannya jelas.

Ibadah dan kehidupan tidak harus dipertentangkan.

Seorang Muslim dapat bekerja, berdagang, mengurus keluarga, dan menjalani berbagai aktivitas duniawi. Namun, Jumat mengingatkan bahwa semua kesibukan itu tidak boleh membuat manusia lupa kepada Allah.

Karena itu, waktu mustajab bukan alasan untuk meninggalkan tanggung jawab.

Justru ia menjadi kesempatan untuk menata kembali hati.

Disclaimer Penting tentang Waktu Mustajab Jumat

AlbadarPost tidak menetapkan satu jam tertentu sebagai waktu pasti terkabulnya doa.

Dasarnya adalah adanya beberapa riwayat yang menjadi pembahasan ulama. Sahih Muslim 853 menyebut waktu antara imam duduk hingga salat Jumat selesai, sedangkan Sunan Abi Dawud 1048 mengarahkan pencarian waktu tersebut pada bagian terakhir setelah Ashar.

Sementara itu, Sahih Muslim 852a dan 852b menegaskan adanya waktu pada hari Jumat ketika seorang Muslim memohon kebaikan kepada Allah, sekaligus menggambarkan bahwa waktu tersebut singkat.

Karena itu, pembaca sebaiknya tidak memahami artikel ini sebagai penetapan “jam pasti doa dikabulkan”, melainkan sebagai informasi mengenai hadis dan pendapat yang berkembang dalam memahami waktu istimewa tersebut.

Mungkin justru di situlah pesan terdalam tentang doa hari Jumat.

Nabi ﷺ memberitahu kita bahwa ada waktu yang sangat singkat untuk mencari, tetapi tidak memberi kita alasan untuk berhenti berdoa ketika jam yang kita tunggu belum tiba.

Sebab, orang yang benar-benar berharap kepada Allah tidak akan sibuk menghitung menit terakhir.

Ia akan sibuk memastikan ketika kesempatan datang, hatinya sudah siap mengetuk pintu langit. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less