Narasi Demo Viral, Monash Temukan Indikasi Pola Terkoordinasi
- account_circle redaktur
- calendar_month Selasa, 4 Agt 2026
- visibility 17
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi media sosial menampilkan video demonstrasi mahasiswa yang kembali viral dan menjadi objek penelitian Monash University Indonesia mengenai pola penyebaran konten digital.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Narasi demo viral kembali memenuhi linimasa media sosial dalam beberapa waktu terakhir. Bersamaan dengan munculnya kembali video demo lama, Monash University Indonesia mengidentifikasi indikasi pola terkoordinasi dalam penyebaran konten yang beredar di berbagai platform digital. Temuan dari riset media sosial tersebut tidak menyebut aktor tertentu, melainkan mengulas pola distribusi informasi yang dinilai tidak berlangsung sepenuhnya organik.
Penelitian itu menjadi perhatian karena dilakukan terhadap sekitar 197 ribu unggahan di platform X, Instagram, TikTok, YouTube, dan Facebook selama periode 26 Juli hingga 1 Agustus 2026. Berdasarkan analisis tersebut, peneliti menemukan banyak unggahan dengan narasi, pola penyebaran, dan waktu publikasi yang sangat mirip.
Meski demikian, hasil penelitian tidak menyimpulkan siapa pihak yang berada di balik penyebaran konten tersebut. Fokus kajian diarahkan pada bagaimana informasi beredar dan bagaimana pola itu dapat memengaruhi persepsi publik di ruang digital.
Analisis Monash Menyoroti Pola Penyebaran Konten
Dalam penelitiannya, Ika Idris dari Monash University Indonesia menyampaikan bahwa percakapan mengenai demonstrasi mahasiswa memperlihatkan karakteristik yang berulang di berbagai media sosial.
Banyak akun mengunggah foto maupun video demonstrasi dengan narasi yang hampir identik, seperti mempertanyakan minimnya pemberitaan media terhadap aksi demonstrasi atau menyebut aksi besar tidak memperoleh perhatian media arus utama.
Menurut peneliti, kondisi tersebut mengindikasikan adanya pola distribusi konten yang serupa, sehingga percakapan digital terlihat berkembang secara tidak sepenuhnya organik.
Namun, penelitian itu tidak menyatakan adanya pelaku tertentu maupun menyimpulkan bahwa seluruh unggahan memiliki tujuan yang sama. Temuan tersebut merupakan hasil analisis terhadap pola penyebaran informasi di media sosial selama periode penelitian.
Video Lama Kembali Beredar dengan Narasi Baru
Penelitian juga menemukan bahwa sebagian materi visual yang kembali viral sebenarnya berasal dari peristiwa yang telah berlangsung sebelumnya.
Salah satu contohnya ialah dokumentasi demonstrasi mahasiswa Universitas Indonesia di kawasan Bundaran Hotel Indonesia pada 12 Juni 2026. Aksi tersebut telah diliput berbagai media nasional maupun internasional. Akan tetapi, sebagian videonya kembali beredar dengan narasi baru yang memunculkan kesan seolah-olah merupakan peristiwa yang baru terjadi.
Selain itu, sejumlah foto demonstrasi di depan Polda Metro Jaya pada Agustus 2025 serta aksi di Mahkamah Konstitusi pada Agustus 2024 juga kembali diunggah dengan konteks yang berbeda.
Menurut peneliti, fenomena resirkulasi konten semacam itu berpotensi membuat masyarakat kehilangan konteks waktu apabila tidak memeriksa sumber asli maupun tanggal pengambilan gambar.
Algoritma Mempercepat Penyebaran Informasi
Peneliti Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Nicky Fahrizal, menjelaskan bahwa algoritma media sosial berperan besar dalam menentukan jangkauan sebuah informasi.
Menurutnya, pihak yang memahami mekanisme distribusi konten berpotensi memperluas penyebaran suatu informasi melalui pemanfaatan algoritma. Di sisi lain, algoritma juga dapat membuat informasi tertentu kurang terlihat ketika perhatian publik bergeser ke isu lain.
Pandangan serupa disampaikan Pendiri Literos, Firman Kurniawan, yang menilai kekosongan informasi sering menjadi ruang munculnya misinformasi maupun disinformasi apabila tidak segera diisi oleh informasi yang akurat dan dapat diverifikasi.
Baik Nicky Fahrizal maupun Firman Kurniawan menekankan pentingnya literasi digital agar masyarakat tidak langsung mempercayai setiap unggahan yang muncul berulang di media sosial.
Literasi Digital Menjadi Benteng Informasi
Temuan Monash University Indonesia menunjukkan bahwa tantangan terbesar di era digital bukan hanya derasnya arus informasi, tetapi juga kemampuan publik memahami konteks setiap konten yang beredar.
Karena itu, masyarakat perlu memeriksa tanggal unggahan, sumber pertama yang mempublikasikan konten, serta membandingkannya dengan laporan dari media yang menerapkan standar verifikasi.
Langkah sederhana tersebut dapat membantu mengurangi risiko penyebaran informasi yang kehilangan konteks maupun narasi yang berpotensi menyesatkan.
Hingga artikel ini diterbitkan, penelitian Monash University Indonesia tidak mengidentifikasi aktor, organisasi, ataupun pihak tertentu sebagai pelaku penyebaran konten. Kajian tersebut berfokus pada analisis pola distribusi informasi di media sosial dan dampaknya terhadap ruang publik digital.
Di era algoritma, informasi tidak hanya bergerak lebih cepat, tetapi juga lebih mudah kehilangan konteks. Sebelum membagikan sebuah unggahan, verifikasi sumbernya—karena satu klik dapat menyebarkan fakta, atau justru memperpanjang umur sebuah narasi yang keliru. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar