Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Dunia » Mualaf Korea Bertambah, Apa Alasan Mereka Tertarik Islam?

Mualaf Korea Bertambah, Apa Alasan Mereka Tertarik Islam?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 44
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DUNIA – Di tengah perubahan sosial Korea Selatan, fenomena mualaf Korea menarik perhatian setelah sebuah laporan media memperkirakan sekitar 45.000 warga etnis Korea yang lahir dan besar di negara tersebut telah memeluk Islam. Angka itu merupakan perkiraan dalam laporan The Korea Times, bukan hasil sensus resmi terbaru yang memastikan jumlah mualaf secara nasional.

Laporan yang terbit pada 12 Oktober 2026 tersebut mengangkat pengalaman sejumlah warga Korea yang memilih Islam melalui perjalanan pribadi. Alasannya beragam, mulai dari ketertarikan terhadap konsep tauhid hingga kesesuaian nilai keluarga dan pencarian lingkungan sosial yang dirasa lebih mendukung.

Fenomena ini tidak cukup dijelaskan melalui angka semata. Di balik keputusan memeluk Islam, terdapat pengalaman dan pertimbangan yang berbeda pada setiap individu.

Bukan Sekadar Angka, Ada Perjalanan Pribadi

Salah satu kisah dalam laporan tersebut datang dari Yusuf, pria etnis Korea berusia 30-an yang memeluk Islam pada 2014. Ia mulai mengenal Islam setelah bertemu dengan teman-teman Muslim dalam sebuah komunitas bahasa Inggris.

Pertemuan itu membuka kesempatan bagi Yusuf untuk mempelajari keyakinan yang sebelumnya belum ia pahami secara mendalam. Pengalamannya memperlihatkan bagaimana pergaulan lintas budaya dapat menjadi pintu awal seseorang mengenal agama.

Namun, kisah Yusuf tidak mewakili seluruh mualaf Korea. Setiap orang memiliki latar belakang, pengalaman, dan alasan tersendiri ketika memutuskan memeluk Islam.

Karena itu, perkiraan 45.000 orang tersebut perlu ditempatkan sebagai konteks berita, bukan sebagai bukti bahwa semua warga Korea yang masuk Islam memiliki motivasi yang sama.

Tauhid dan Nilai Keluarga Menjadi Daya Tarik

Salah satu hal yang menarik perhatian beberapa warga Korea yang diwawancarai adalah konsep ketuhanan dalam Islam. Keyakinan terhadap keesaan Allah menjadi alasan bagi sebagian orang untuk mempelajari ajaran Islam lebih jauh.

Selain tauhid, nilai penghormatan terhadap orang tua juga muncul dalam pengalaman seorang mualaf bernama Areum. Perempuan Korea berusia 30-an itu menilai penghormatan kepada orang yang lebih tua dalam Islam memiliki kesesuaian dengan nilai keluarga yang dikenalnya sejak kecil.

Kesamaan tersebut membantunya menjelaskan keputusan memeluk Islam kepada orang tuanya. Meski demikian, pengalaman Areum tetap merupakan kisah personal, bukan gambaran yang mewakili seluruh masyarakat Korea.

Bagi seseorang yang sedang mencari keyakinan, proses mengenal agama dapat melibatkan pembelajaran, dialog, pengalaman sosial, dan pertimbangan pribadi. Oleh sebab itu, keputusan memeluk Islam tidak tepat jika disederhanakan menjadi akibat tren budaya atau pengaruh figur publik semata.

Tekanan Sosial Menjadi Bagian dari Cerita Sebagian Mualaf

Laporan The Korea Times juga menyoroti pandangan sebagian warga Korea terhadap ekspektasi sosial, termasuk tekanan dalam hubungan dan budaya berkencan.

Yusuf menilai sebagian pria yang tertarik pada Islam juga mencari pendekatan yang mereka anggap lebih sederhana dalam membangun hubungan dan keluarga. Namun, alasan tersebut berasal dari pengamatan serta pengalaman yang disampaikan narasumber, bukan hasil survei yang menggambarkan seluruh mualaf Korea.

Pembedaan ini penting agar pemberitaan tidak menimbulkan kesan bahwa seseorang memeluk Islam semata-mata untuk memperoleh pasangan. Keyakinan merupakan keputusan personal yang dapat melibatkan banyak pertimbangan.

Selain itu, pengalaman sosial warga Korea tidak seragam. Lingkungan keluarga, pertemanan, kondisi kehidupan, dan pandangan pribadi dapat membentuk perjalanan spiritual seseorang dengan cara yang berbeda.

Masjid dan Komunitas Membuka Ruang Belajar

Masjid Pusat Seoul di kawasan Itaewon menjadi salah satu tempat warga Korea dapat mempelajari dasar-dasar Islam. Dalam laporan tersebut, antara lima hingga 25 orang mengikuti pelatihan dasar Islam di masjid itu setiap bulan.

Setelah mempelajari ajaran dasar, peserta dapat memilih untuk mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai pernyataan memeluk Islam. Meski demikian, jumlah peserta pelatihan bulanan tidak dapat langsung digunakan untuk menghitung pertumbuhan seluruh populasi Muslim Korea.

Komunitas Muslim juga menyediakan ruang untuk bertanya, belajar, dan berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki pengalaman serupa. Dukungan sosial tersebut dapat membantu sebagian mualaf memahami kehidupan Muslim setelah mengambil keputusan keagamaan.

Namun, perjalanan itu tidak selalu mudah. Sebagian orang mungkin menghadapi kekhawatiran mengenai penerimaan keluarga atau lingkungan pergaulan. Di sisi lain, dukungan komunitas dapat membantu mereka menjalani perubahan tersebut.

Media Sosial Membuat Islam Lebih Mudah Dikenal

Media sosial menjadi salah satu jalur yang mempertemukan masyarakat dengan pengalaman Muslim Korea. Sejumlah figur publik membagikan kehidupan sehari-hari, perjalanan spiritual, dan perpaduan identitas Korea dengan gaya hidup Muslim.

Ayana Jihye Moon, misalnya, dikenal sebagai figur Muslim asal Korea yang membagikan konten fesyen dan kehidupannya setelah memeluk Islam. Daud Kim juga dikenal melalui konten digital yang menceritakan pengalaman pribadinya sebagai mualaf.

Kehadiran mereka dapat membantu sebagian pengguna media sosial mengenal kehidupan Muslim dari sudut pandang yang lebih dekat. Namun, popularitas konten tidak membuktikan bahwa media sosial menjadi penyebab utama seseorang memeluk Islam.

Dengan demikian, media sosial lebih tepat dipahami sebagai salah satu jalur perkenalan. Keputusan berpindah keyakinan tetap merupakan proses personal yang tidak dapat diukur hanya dari jumlah pengikut atau penayangan konten.

Angka 45.000 Perlu Dibaca Secara Cermat

Perkiraan 45.000 warga etnis Korea yang memeluk Islam menjadi angka yang menarik perhatian. Akan tetapi, pembaca perlu memahami batas informasi tersebut.

Angka dalam laporan The Korea Times merujuk pada perkiraan warga etnis Korea yang lahir dan besar di Korea Selatan. Laporan itu bukan sensus resmi terbaru yang memastikan jumlah mualaf di seluruh negara.

Selain itu, jumlah warga Korea yang memeluk Islam berbeda dari keseluruhan populasi Muslim di Korea Selatan, yang juga mencakup penduduk asing. Karena itu, angka tersebut tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa Islam telah menjadi agama mayoritas atau bahwa seluruh generasi muda Korea mengalami perubahan keyakinan serupa.

Informasi yang tersedia menunjukkan gambaran yang lebih beragam: sebagian orang tertarik pada tauhid, sebagian menemukan kesesuaian nilai keluarga, sementara lainnya mulai mengenal Islam melalui pertemanan dan komunitas.

Fenomena mualaf Korea pada akhirnya bukan hanya tentang berapa banyak orang yang berpindah keyakinan. Kisah-kisah mereka memperlihatkan bahwa perjalanan spiritual dapat tumbuh dari pertemuan, pembelajaran, dan pencarian pribadi.

Sebab, di balik setiap angka, ada manusia yang mengambil keputusan besar dalam hidupnya—dan setiap perjalanan keyakinan layak dipahami tanpa prasangka maupun generalisasi. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less