Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Dunia » Kapsul Tsunami Jepang Ini Bisa Mengapung, Muat 20 Orang

Kapsul Tsunami Jepang Ini Bisa Mengapung, Muat 20 Orang

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
  • visibility 34
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

AlbadarPost.com, BERITA DUNIA — Kapsul tsunami dari Jepang menawarkan pendekatan berbeda dalam menghadapi risiko tsunami dan banjir. Bernama SAFE+, perangkat ini merupakan floating disaster shelter yang dirancang untuk mengapung ketika terjadi genangan dan digunakan sebagai perlindungan tambahan saat proses evakuasi menjadi sulit.

Salah satu modelnya, SAFE+500, memiliki kapasitas hingga 20 orang. Saat ini MONARTE, merek milik Tajima Motor Corporation, menawarkan tiga model SAFE+, yakni SAFE+400 untuk 14 orang, SAFE+500 untuk 20 orang, dan SAFE+600 untuk 24 orang.

Informasi mengenai teknologi tersebut sebelumnya dibagikan melalui akun Infipop.id. Sementara itu, spesifikasi teknis dalam artikel ini merujuk pada informasi terbaru dari produsen.

Yang menarik bukan semata bentuknya seperti kapsul. SAFE+ dirancang untuk tetap mengapung ketika terjadi genangan, sehingga konsep perlindungannya berbeda dari shelter yang hanya mengandalkan posisi tetap di daratan.

Namun, ada batas penting yang perlu dipahami. Produsen menegaskan bahwa SAFE+ bukan pengganti evakuasi dini. Perangkat ini diposisikan sebagai perlindungan tambahan ketika tsunami atau banjir membuat evakuasi menjadi sulit.

Kapsul Tsunami Jepang Ini Dirancang Mengapung

Bagaimana kapsul tsunami Jepang tersebut bekerja?

MONARTE menggunakan struktur komposit yang menggabungkan inti busa khusus dan poliu­rea. Produsen menyebut struktur itu dirancang lebih ringan daripada air sehingga dapat mengapung ketika terjadi genangan. Desain dengan titik berat rendah juga ditujukan untuk membantu pemulihan posisi di permukaan air.

Konsep tersebut membuat SAFE+ berbeda dari shelter konvensional. Ketika air naik dan lingkungan sekitar mulai tergenang, shelter tidak hanya mengandalkan kekuatan struktur, tetapi juga memanfaatkan daya apung.

Produsen mencantumkan beberapa pengujian pada produk tersebut. Di antaranya uji jatuh ke permukaan air dari ketinggian sekitar tiga meter, uji terbalik dan pemulihan posisi, serta uji jatuh di daratan. Produsen juga mencantumkan pengujian struktur poliu­rea terhadap benturan benda yang beterbangan.

Meski demikian, hasil pengujian tersebut harus dibaca secara proporsional. Pengujian menunjukkan aspek yang diuji produsen, bukan jaminan bahwa kapsul dapat menghadapi setiap kemungkinan kondisi tsunami di dunia nyata.

SAFE+500 Mampu Menampung 20 Orang

Angka 20 orang pada headline merujuk secara spesifik pada model SAFE+500.

Menurut spesifikasi terbaru, SAFE+400 memiliki kapasitas 14 orang dengan panjang 4.100 milimeter. Kemudian SAFE+500 memiliki kapasitas 20 orang dengan panjang 5.125 milimeter. Sementara SAFE+600 dapat menampung hingga 24 orang dengan panjang 6.150 milimeter. Ketiga model memiliki lebar dan tinggi sekitar 2.460 milimeter.

Selain itu, seluruh model menyediakan sabuk pengaman empat titik sesuai jumlah penumpang dan helm pelindung kepala sebagai perlengkapan standar. Sistem baterai juga menjadi bagian dari spesifikasi standar.

Fitur tersebut menunjukkan bahwa desain kapsul penyelamat tsunami tidak hanya berfokus pada kemampuan mengapung. Produsen juga memperhitungkan kondisi penumpang ketika kapsul menghadapi guncangan atau perubahan posisi.

Namun, sekali lagi, fitur keselamatan tersebut tidak boleh diterjemahkan sebagai jaminan keselamatan absolut.

Bukan Pengganti Evakuasi Dini

Di sinilah informasi mengenai shelter tsunami Jepang perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat.

Kemampuan mengapung memang menjadi daya tarik utama SAFE+. Akan tetapi, teknologi tersebut bukan alasan bagi masyarakat untuk menunggu sampai tsunami tiba.

Produsen secara eksplisit menyebut evakuasi menuju tempat aman sedini mungkin sebagai prinsip utama. SAFE+ dirancang sebagai perangkat tambahan ketika tsunami, banjir, atau kondisi lain membuat proses evakuasi menjadi sulit.

Dengan demikian, kapsul pengungsi tsunami berada pada lapisan perlindungan tambahan.

Sistem peringatan dini tetap penting. Jalur evakuasi tetap harus tersedia. Masyarakat juga tetap perlu mengetahui lokasi aman dan memahami tindakan yang harus dilakukan ketika peringatan bencana muncul.

Teknologi hanya akan bekerja optimal jika pengguna memahami fungsi sekaligus batasnya.

D'Arrian Collections

Ada Opsi untuk Pengguna Kursi Roda

SAFE+ juga memiliki aspek yang menarik dari sisi aksesibilitas.

Produsen menyediakan opsi ramp untuk kursi roda, lantai datar, pendingin ruangan, sumber listrik dalam ruangan, hingga pengaturan tata letak interior. Spesifikasi tersebut dapat disesuaikan karena SAFE+ merupakan produk pesanan yang dibuat berdasarkan kebutuhan dan kondisi pemasangan.

Artinya, pembahasan mengenai teknologi mitigasi tsunami tidak hanya berkaitan dengan material dan kemampuan mengapung.

Akses bagi pengguna dengan kebutuhan berbeda juga masuk dalam pertimbangan desain. Namun, tidak semua unit otomatis memiliki konfigurasi yang sama karena sebagian fitur merupakan pilihan atau bagian dari spesifikasi khusus.

SAFE+ Menambah Lapisan Perlindungan

SAFE+ memperlihatkan bagaimana teknologi dapat menjadi bagian dari strategi mitigasi bencana yang lebih berlapis.

Ketika air memasuki kawasan dan jalur evakuasi menghadapi hambatan, sebuah shelter yang dirancang untuk mengapung dapat menjadi tambahan perlindungan. Produsen saat ini memasarkan SAFE+ untuk kebutuhan menghadapi tsunami, banjir, dan angin kencang, dengan tiga kapasitas serta pilihan konfigurasi sesuai lokasi dan kebutuhan.

Tetapi teknologi tersebut tetap memiliki batas.

Kapsul tsunami bukan tiket untuk menunggu bencana datang.

Justru sebaliknya, keberadaan SAFE+ menunjukkan bahwa mitigasi bencana membutuhkan beberapa lapisan sekaligus: peringatan dini, pengetahuan masyarakat, jalur evakuasi, tempat aman, dan perangkat perlindungan tambahan ketika kondisi tidak lagi ideal.

Air bisa naik dalam hitungan menit. Jalur bisa terputus tanpa banyak peringatan. Karena itu, teknologi paling berharga bukan yang membuat manusia berani menunggu tsunami, melainkan yang memberi perlindungan tambahan ketika waktu dan pilihan untuk menyelamatkan diri semakin sempit. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less