Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Produksi Padi Sukaratu Anjlok 28,8 Persen, Apa Penyebabnya?

Produksi Padi Sukaratu Anjlok 28,8 Persen, Apa Penyebabnya?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
  • visibility 84
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAH — Produksi padi Sukaratu turun tajam pada 2025. Data terbaru BPS Kabupaten Tasikmalaya menunjukkan produksi padi sawah hanya mencapai 18.656,18 ton, merosot dari 26.204,62 ton pada 2024. Penurunan produksi padi Sukaratu mencapai sekitar 28,8 persen, meski luas tanam masih berada di kisaran 4.000 hektare.

Perubahan tersebut menjadi perhatian karena penurunan produksi jauh lebih besar dibandingkan perubahan luas tanam maupun luas panen.

Berdasarkan data empat tahun, luas tanam padi sawah Sukaratu mencapai 4.013,7 hektare pada 2024, kemudian menjadi 3.986,2 hektare pada 2025. Selisihnya hanya sekitar 27,5 hektare atau kurang dari 1 persen.

Lantas, apa yang terjadi di balik penurunan tersebut?

Pertanyaan itu penting karena data yang tersedia menunjukkan perubahan paling mencolok justru terjadi pada produktivitas padi per hektare.

Produktivitas Padi Turun 27 Persen

Pada 2024, produktivitas padi sawah di Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya tercatat 73,82 kuintal per hektare.

Setahun kemudian, angka tersebut turun menjadi 53,88 kuintal per hektare.

Dengan demikian, produktivitas turun sekitar 27 persen dalam satu tahun. Sementara itu, luas panen hanya berubah dari 3.549,8 hektare pada 2024 menjadi 3.462,38 hektare pada 2025.

Perbandingan tersebut menghasilkan sebuah pola yang patut diperiksa.

Lahan yang ditanam masih relatif sama. Luas panen juga tidak mengalami penurunan sebesar produksi. Namun, hasil yang diperoleh dari setiap hektare turun cukup dalam.

Karena itu, persoalan produksi 2025 tidak cukup dijelaskan hanya dengan mengatakan bahwa luas lahan berkurang.

Titik persoalannya perlu dicari pada produktivitas.

Produksi 2025 Jadi yang Terendah dalam Empat Tahun

Jika melihat periode 2022–2025, penurunan tersebut semakin terlihat.

Pada 2022, produksi padi sawah Sukaratu tercatat 20.804 ton. Angka itu kemudian meningkat menjadi 23.495 ton pada 2023 dan kembali naik hingga 26.204,62 ton pada 2024.

Namun, tren tersebut berubah pada 2025.

Produksi turun menjadi 18.656,18 ton, bahkan berada di bawah capaian 2022.

Perubahan produktivitas juga mengikuti pola yang sama. Pada 2022 dan 2023, produktivitas berada di kisaran 75 kuintal per hektare. Angka itu turun menjadi 73,82 kuintal per hektare pada 2024, sebelum merosot lebih jauh menjadi 53,88 kuintal per hektare pada 2025.

Data tersebut belum menjelaskan penyebabnya.

Namun, justru di situlah nilai berita ini berada.

Bukan Sekadar Soal Luas Sawah

Penurunan produksi padi dapat dipengaruhi berbagai faktor. Akan tetapi, data dalam publikasi ini tidak cukup untuk menentukan penyebab tertentu.

Karena itu, belum tepat jika penurunan produksi langsung dikaitkan dengan hama, pupuk, cuaca, irigasi, benih, atau faktor lainnya tanpa keterangan dari pihak yang berkompeten dan bukti lapangan.

Ada sejumlah pertanyaan yang layak diajukan.

Apakah petani mengalami gangguan organisme pengganggu tanaman pada 2025? Bagaimana kondisi pengairan ketika musim tanam berlangsung? Apakah ada perubahan penggunaan benih atau sarana produksi? Bagaimana kondisi cuaca selama periode tanam hingga panen?

Selain itu, perlu diketahui apakah penurunan produktivitas terjadi secara merata di seluruh wilayah Sukaratu atau hanya terkonsentrasi pada desa tertentu.

Jawaban atas pertanyaan tersebut penting agar angka penurunan produksi tidak berhenti sebagai statistik tahunan.

Data Ini Perlu Diuji di Lapangan

Sukaratu memiliki basis tanaman pangan yang cukup jelas. Pada 2025, padi sawah tercatat sebagai tanaman pangan dengan luas tanam 3.986 hektare, luas panen 3.462 hektare, produksi 18.656 ton, dan produktivitas 53,88 kuintal per hektare. Sementara itu, padi ladang tidak tercatat memiliki luas tanam maupun produksi pada tahun yang sama.

Karena itu, penurunan produksi padi sawah layak mendapat perhatian khusus.

Tahap berikutnya bukan sekadar mencari angka tambahan, melainkan menguji angka tersebut dengan kondisi di lapangan.

AlbadarPost perlu meminta penjelasan dari petani dan kelompok tani, kemudian membandingkannya dengan keterangan penyuluh pertanian serta pemerintah daerah melalui dinas teknis terkait. BPS juga penting dikonfirmasi untuk memastikan konteks dan metodologi pencatatan angka tersebut.

Dengan cara itu, publik bisa mengetahui apakah penurunan produktivitas benar-benar mencerminkan kondisi sawah, faktor produksi, kondisi musim, atau terdapat penjelasan statistik lainnya.

Yang Perlu Dijawab Pemerintah

Ada satu pertanyaan sederhana tetapi penting:

Mengapa produktivitas padi Sukaratu turun dari 73,82 menjadi 53,88 kuintal per hektare dalam satu tahun?

Pertanyaan tersebut bukan tuduhan.

Justru, pertanyaan itu diperlukan agar pemerintah dan pemangku kepentingan pertanian dapat menjelaskan kondisi yang terjadi secara terbuka kepada masyarakat.

Apalagi, penurunan produksi terjadi setelah dua tahun sebelumnya menunjukkan pertumbuhan. Pada 2023 produksi mencapai 23.495 ton, kemudian meningkat menjadi 26.204,62 ton pada 2024 sebelum turun menjadi 18.656,18 ton pada 2025.

Jika penyebabnya sudah diketahui, publik tentu membutuhkan penjelasan sekaligus langkah perbaikannya.

Jika penyebabnya belum diketahui, maka evaluasi lapangan menjadi semakin penting.

AlbadarPost Membuka Ruang Konfirmasi

Data statistik adalah titik awal, bukan akhir sebuah liputan.

Karena itu, AlbadarPost akan menempatkan angka penurunan produksi ini sebagai agenda konfirmasi, bukan sebagai kesimpulan mengenai penyebab.

Petani perlu didengar. Penyuluh perlu dimintai penjelasan. Pemerintah daerah perlu memberikan data dan evaluasi. Sementara itu, metodologi statistik juga perlu dipahami agar pembaca memperoleh gambaran yang utuh.

Dengan pendekatan tersebut, pemberitaan mengenai pertanian Sukaratu tidak berhenti pada angka penurunan produksi, tetapi bergerak menuju pertanyaan yang lebih substantif: apa yang terjadi di balik turunnya hasil setiap hektare sawah?

Sawahnya masih ada. Luas tanamnya hampir tidak berubah. Tetapi hasilnya jatuh hampir sepertiga. Angka 18.656,18 ton sudah tercatat—sekarang yang ditunggu publik adalah penjelasan tentang apa yang terjadi di balik angka tersebut. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less