Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Kalibrasi Arah Kiblat Banjar, Alat untuk 25 Desa Diharapkan Tahun Depan

Kalibrasi Arah Kiblat Banjar, Alat untuk 25 Desa Diharapkan Tahun Depan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Kamis, 15 Okt 2026
  • visibility 14
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAH — Kalibrasi arah kiblat di Kota Banjar menjadi perhatian pemerintah daerah. Wakil Wali Kota Banjar, Dr. H. Supriana, M.Pd., mendorong inventarisasi masjid yang sudah dan belum menjalani kalibrasi. Ia juga berharap pengadaan alat kalibrasi mizwala dapat masuk anggaran tahun depan untuk mendukung pelayanan di 25 desa dan kelurahan.

Supriana menyampaikan hal tersebut saat menghadiri pembukaan Pelatihan Kalibrasi Arah Kiblat Menggunakan Teodolit dan Mizwala di Rumah Makan Pawon Baraya, Desa Mulyasari, Kecamatan Pataruman, Rabu (14/10/2026).

Badan Hisab Rukyat Daerah (BHRD) Kota Banjar menggagas kegiatan yang diikuti 50 peserta perwakilan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dari desa dan kelurahan se-Kota Banjar tersebut.

Dikutip dari Pemkot Banjar, kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman teknis mengenai pengukuran arah kiblat. Selain pelatihan, pemerintah daerah juga mendorong pendataan tempat ibadah sebagai dasar penentuan kebutuhan layanan berikutnya.

Pemkot Banjar Dorong Pendataan Masjid

Supriana menegaskan bahwa kalibrasi arah kiblat penting untuk memberikan rasa aman dan kepastian kepada umat Islam saat melaksanakan salat. Karena itu, ia menginstruksikan agar pihak terkait segera menginventarisasi masjid yang telah menjalani kalibrasi maupun yang belum.

Inventarisasi dapat membantu pemerintah daerah memetakan kebutuhan di setiap wilayah. Melalui data tersebut, pihak terkait dapat menentukan lokasi yang memerlukan pemeriksaan dan menyusun prioritas pelayanan.

Selain itu, pendataan yang rapi membantu menghindari pelaksanaan program tanpa sasaran yang jelas. Pengurus masjid juga dapat memperoleh informasi mengenai prosedur pengajuan pemeriksaan apabila tempat ibadah mereka membutuhkan kalibrasi.

Namun, pendataan perlu berlanjut menjadi tindakan nyata. Pemerintah daerah dan BHRD perlu menyiapkan tindak lanjut, termasuk jadwal pelayanan, penanggung jawab, dan mekanisme permohonan kalibrasi bagi pengurus masjid maupun musala.

50 Peserta Ikuti Pelatihan Teodolit dan Mizwala

Pelatihan yang digagas BHRD Kota Banjar menggunakan dua instrumen, yaitu teodolit dan mizwala. Keduanya dapat mendukung pengukuran arah kiblat melalui metode yang membutuhkan ketelitian dan pemahaman teknis.

Teodolit merupakan instrumen untuk mengukur sudut horizontal dan vertikal. Dalam pengukuran arah kiblat, pengguna perlu mengikuti prosedur yang benar serta memperhatikan kondisi pengamatan agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara itu, mizwala merupakan alat bantu penentuan arah kiblat yang memanfaatkan posisi dan bayangan Matahari. Penggunaannya membutuhkan pemahaman tentang waktu pengamatan, arah mata angin, dan cara membaca hasil pengukuran.

Karena itu, pelatihan teknis menjadi bagian penting dalam meningkatkan kapasitas peserta. Mereka perlu memahami cara menggunakan instrumen sekaligus mengenali faktor yang dapat memengaruhi ketepatan hasil.

Keterlibatan perwakilan DKM dari berbagai desa dan kelurahan berpotensi memperluas pengetahuan teknis di lingkungan pengelola masjid. Meski demikian, kemampuan peserta dalam melaksanakan kalibrasi secara mandiri tetap memerlukan evaluasi dan pendampingan yang memadai.

Pengadaan Mizwala untuk 25 Desa Masih Diharapkan

Selain mendorong inventarisasi, Supriana berharap pengadaan alat kalibrasi mizwala dapat masuk anggaran tahun depan. Harapan tersebut diarahkan untuk mendukung pelayanan di 25 desa dan kelurahan di Kota Banjar.

Ketersediaan alat di tingkat wilayah diharapkan mempercepat proses kalibrasi. Dengan dukungan sarana tersebut, pelayanan berpeluang menjangkau masjid, musala, serta tempat umum yang menyediakan sarana ibadah salat.

Namun, pengadaan alat belum dapat dinyatakan sebagai keputusan anggaran yang telah disahkan. Informasi mengenai nilai anggaran, jumlah unit yang akan dibeli, sumber pembiayaan, dan mekanisme distribusi juga belum tersedia dalam bahan berita yang digunakan.

Oleh sebab itu, perkembangan penganggaran perlu menjadi perhatian berikutnya. Pemerintah daerah perlu menghitung kebutuhan alat, menyiapkan petugas yang kompeten, dan menyusun mekanisme pelayanan agar sarana yang tersedia benar-benar bermanfaat.

Pengadaan juga perlu disertai prosedur penggunaan dan pencatatan hasil pemeriksaan. Dengan demikian, setiap kegiatan kalibrasi memiliki dokumentasi yang dapat menjadi rujukan bagi pengurus masjid maupun pihak terkait.

Kalibrasi Arah Kiblat Membutuhkan Tindak Lanjut

Pelatihan di Kota Banjar membawa tiga agenda yang saling berkaitan: peningkatan kemampuan teknis, inventarisasi masjid, dan harapan pengadaan alat untuk 25 desa dan kelurahan.

Ketiganya perlu berjalan beriringan. Pendataan membantu menentukan sasaran, pelatihan memperkuat kemampuan petugas, sedangkan ketersediaan alat mendukung pelaksanaan layanan di lapangan.

Dikutip dari NewsTasikmalaya, Ketua BHRD Kota Banjar, H. Badar Ismail, menyebutkan bahwa jumlah masjid di Kota Banjar diperkirakan mencapai 330 unit, sementara musala diperkirakan berjumlah 200–300 unit. Sekitar 80 persen masjid disebut telah menjalani kalibrasi arah kiblat. Namun, sebagian belum memiliki sertifikat resmi, sedangkan pengukuran arah kiblat di sejumlah musala masih belum dilakukan.

Bagi pengurus masjid, informasi tentang jadwal dan prosedur kalibrasi juga penting agar mereka mengetahui cara memperoleh layanan secara tepat.

Arah kiblat bukan sekadar urusan pengukuran di atas kertas. Kepastiannya membutuhkan petugas yang terampil, data yang jelas, dan layanan yang benar-benar sampai ke tempat ibadah. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less