Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Kenapa Orang ke Mal Tasikmalaya Bukan Cuma Belanja?

Kenapa Orang ke Mal Tasikmalaya Bukan Cuma Belanja?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Sabtu, 3 Okt 2026
  • visibility 64
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAH — Akhir pekan di Tasikmalaya tidak selalu dimulai dari daftar belanja. Sebagian masyarakat datang ke mal untuk mencari tempat makan, menghadiri acara, bertemu teman, membawa keluarga, atau sekadar mencari suasana berbeda dari rutinitas harian.

Perubahan itu terlihat dari aktivitas pusat perbelanjaan yang semakin bergantung pada pengalaman pengunjung. Mal tidak lagi hanya menjadi tempat transaksi, tetapi juga ruang untuk kuliner, hiburan, berkumpul hingga membuat konten.

Fenomena tersebut ikut terlihat di sejumlah pusat perbelanjaan di Tasikmalaya, terutama ketika terdapat kegiatan atau event yang mampu menjadi magnet pengunjung.

Event Bisa Mengubah Suasana Mal

Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Wilayah Tasikmalaya-Cirebon, Lucy Sosilawaty, mengatakan aktivitas event menjadi salah satu pemicu meningkatnya traffic pusat perbelanjaan.

Dalam laporan Radar Tasikmalaya pada 3 Oktober 2026, traffic mal ketika terdapat event disebut dapat meningkat hingga lima kali lipat dibandingkan kondisi normal. Sementara pada hari biasa, peningkatan jumlah pengunjung dibandingkan tahun sebelumnya berada di kisaran 30 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa keputusan masyarakat datang ke mal tidak selalu berkaitan langsung dengan kebutuhan berbelanja.

Ada faktor lain yang ikut bermain: apa yang sedang terjadi di dalam mal.

Ketika ada pameran, bazar, festival, pertunjukan atau kegiatan komunitas, pusat perbelanjaan memiliki alasan tambahan bagi masyarakat untuk datang.

Mereka bisa saja awalnya datang karena ingin melihat sebuah acara. Namun setelah berada di lokasi, aktivitas lain ikut mengikuti—makan, membeli minuman, melihat produk, berfoto, atau menghabiskan waktu bersama keluarga.

Dengan kata lain, event dapat menjadi pintu masuk sebelum transaksi terjadi.

Plaza Asia Menjadi Contoh Akhir Pekan

Salah satu contoh aktual terlihat dari pelaksanaan Tasik Muslim Fair (TMF) 2026 di Graha Asia Plaza Asia Tasikmalaya pada 1–4 Oktober 2026.

Event tersebut menargetkan sekitar 50.000 pengunjung dan menghadirkan 102 tenant. Jumlah tenant itu lebih sedikit dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya yang berada pada kisaran 140–160 tenant. Pada hari pertama, suasana lokasi dilaporkan cukup ramai.

Kehadiran event seperti ini membuat pengalaman berkunjung ke mal menjadi lebih beragam.

Pengunjung tidak hanya berpindah dari satu toko ke toko lainnya. Mereka dapat menghabiskan waktu di area kuliner, melihat produk dalam bazar, mengikuti aktivitas acara, atau sekadar menikmati suasana bersama orang terdekat.

Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana pusat perbelanjaan mencoba mempertahankan relevansinya ketika masyarakat semakin selektif dalam mengeluarkan uang.

Sebab, seseorang mungkin tidak memiliki rencana membeli pakaian atau barang elektronik ketika datang ke mal. Namun, keputusan untuk makan, minum kopi, menonton hiburan, atau mengikuti sebuah acara tetap bisa membuat kunjungan terjadi.

Mal Bergeser Menjadi Ruang Sosial

Perubahan fungsi tersebut sebenarnya bukan hanya soal strategi pengelola pusat perbelanjaan.

Ada perubahan pada cara masyarakat menggunakan ruang publik perkotaan.

Di tengah keterbatasan ruang untuk berkumpul, mal menawarkan beberapa kebutuhan sekaligus. Tempatnya relatif mudah dijangkau, tersedia pilihan makanan, terdapat area hiburan, dan kegiatan dapat berlangsung dalam satu lokasi.

Karena itu, tidak mengherankan jika aktivitas seperti makan bersama keluarga, bertemu teman, membuat konten media sosial hingga menghadiri event menjadi bagian dari pengalaman berkunjung.

Bahkan, sejumlah momentum sepanjang 2026 menunjukkan bahwa traffic Plaza Asia dapat meningkat ketika terdapat program khusus. Aktivitas menjelang Ramadan, promosi, hingga momentum hari raya sebelumnya juga dilaporkan ikut mendorong kunjungan.

Artinya, persaingan pusat perbelanjaan tidak hanya berada pada harga barang.

Pengalaman menjadi bagian dari produk itu sendiri.

Belanja Bisa Menjadi Bagian dari Perjalanan

Fenomena ini menarik untuk melihat pola konsumsi masyarakat Tasikmalaya secara lebih luas.

Ketika daya beli lebih selektif, masyarakat tentu akan mempertimbangkan kembali barang apa yang benar-benar perlu dibeli. Namun kebutuhan untuk bersosialisasi, mencari hiburan dan menikmati waktu bersama keluarga tetap ada.

Di titik itulah mal memiliki fungsi yang lebih luas.

Pengunjung mungkin datang karena sebuah acara. Mereka kemudian makan. Setelah itu melihat-lihat tenant. Sebagian mungkin membeli produk. Yang lain cukup menikmati suasana dan pulang tanpa membawa barang belanjaan.

Namun dari sudut pandang pengelola, kunjungan tersebut tetap memiliki nilai.

Karena itu, gambaran mal pada akhir pekan tidak lagi sesederhana “orang datang untuk belanja.”

Masyarakat datang untuk mendapatkan pengalaman.

Dan ketika sebuah mal mampu menyediakan pengalaman yang memang dicari pengunjung, transaksi bisa muncul sebagai bagian dari perjalanan—bukan selalu sebagai tujuan utamanya. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less