Hadis Nabi yang Menampar Budaya Pamer
- account_circle redaktur
- calendar_month 22 jam yang lalu
- visibility 20
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seseorang menunduk menatap layar ponsel dengan ekspresi merenung, sementara pantulan wajahnya di layar tampak lebih angkuh dibanding ekspresi aslinya
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Hadis Nabi tentang sombong bukan sekadar mengingatkan bahaya takabur, tetapi juga mengajak setiap Muslim menguji kembali isi hatinya. Di tengah budaya media sosial, pencitraan, dan kebanggaan terhadap pencapaian, larangan sombong dalam Islam terasa semakin relevan. Islam tidak melarang seseorang menjadi sukses, kaya, berilmu, atau dikenal banyak orang. Namun, Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa keberhasilan dapat berubah menjadi pintu kesombongan apabila hati mulai merasa lebih mulia daripada orang lain.
Fenomena itu tidak selalu tampak dalam bentuk ucapan yang angkuh. Kesombongan sering hadir secara halus. Ia bersembunyi di balik keinginan untuk selalu dipuji, merasa paling benar, atau sulit menerima kritik. Karena sifatnya yang samar, banyak orang tidak menyadari bahwa penyakit hati ini perlahan tumbuh bersamaan dengan meningkatnya popularitas dan pencapaian.
Padahal Rasulullah ﷺ telah memberikan peringatan yang sangat tegas.
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi.”
(HR. Muslim)
Hadis tersebut bukan larangan untuk berprestasi. Sebaliknya, Islam mendorong umatnya bekerja keras, mencari ilmu, berdagang, berkarya, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Yang diperingatkan Rasulullah ﷺ adalah ketika keberhasilan mengubah cara seseorang memandang dirinya dan orang lain.
Prestasi Tidak Salah, Tetapi Hati Harus Terus Dijaga
Islam sejak awal mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan kerendahan hati.
Seorang pedagang boleh menjadi kaya.
Seorang ilmuwan boleh menjadi terkenal.
Dan seorang pejabat boleh memiliki jabatan tinggi.
Bahkan seorang dai boleh dikenal jutaan orang.
Semuanya merupakan nikmat yang patut disyukuri apabila diperoleh dengan cara yang halal.
Namun, nikmat tersebut akan berubah menjadi ujian ketika seseorang mulai merasa bahwa keberhasilannya lahir semata-mata karena kemampuan dirinya.
Allah SWT mengingatkan:
“Dan janganlah engkau memalingkan wajah dari manusia karena sombong, dan jangan berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
(QS. Luqman: 18).
Ayat ini tidak membahas pakaian, kendaraan, atau jabatan. Yang menjadi sorotan adalah sikap hati.
Kesombongan selalu dimulai dari dalam, kemudian tampak melalui ucapan dan perilaku.
Bahaya Kesombongan yang Tidak Disadari
Budaya digital membuat manusia semakin mudah menampilkan sisi terbaik kehidupannya. Dalam banyak keadaan, hal itu bukanlah kesalahan. Berbagi kabar baik atau pencapaian dapat menjadi bentuk syukur dan inspirasi.
Namun, persoalannya muncul ketika tujuan utama bergeser dari berbagi manfaat menjadi mencari pengakuan.
Hari ini, ukuran keberhasilan sering kali dihitung dari jumlah pengikut, tanda suka, atau komentar yang memuji.
Sebaliknya, kualitas akhlak, keikhlasan, dan kerendahan hati justru jarang menjadi bahan pembicaraan.
Inilah yang perlu diwaspadai.
Bukan karena media sosial pasti melahirkan kesombongan, tetapi karena setiap manusia memiliki kecenderungan untuk menyukai pujian.
Al-Qur’an mengingatkan:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13).
Kemuliaan dalam Islam tidak diukur dari popularitas, melainkan ketakwaan.
Penjelasan Ulama: Kesombongan Bukan Soal Penampilan
Sebagian orang pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengenai seseorang yang senang memakai pakaian indah.
Beliau menjawab:
إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
(HR. Muslim)
Imam An-Nawawi ketika mensyarah hadis ini menjelaskan bahwa inti kesombongan bukan terletak pada pakaian, harta, atau penampilan, melainkan pada dua hal: menolak kebenaran setelah mengetahuinya dan memandang rendah orang lain.
Karena itu, seseorang yang berpakaian sederhana belum tentu rendah hati. Sebaliknya, orang yang memiliki harta dan jabatan belum tentu sombong.
Yang menentukan adalah keadaan hatinya.
Muhasabah Sebelum Terlambat
Mungkin musuh terbesar seorang mukmin bukanlah dosa yang tampak, melainkan dosa yang berhasil bersembunyi di balik prestasi.
Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar kebutuhan untuk bermuhasabah.
Semakin luas pengaruhnya, semakin besar pula tanggung jawab menjaga hati.
Rasulullah ﷺ tidak pernah melarang umatnya menjadi hebat. Beliau justru mengajarkan agar setiap keberhasilan selalu dikembalikan kepada Allah sebagai bentuk syukur, bukan sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Barangkali itulah mengapa para ulama salaf lebih takut terhadap kesombongan yang tidak disadari daripada kesalahan yang segera mereka akui. Sebab dosa yang terlihat masih mungkin ditinggalkan, sedangkan kesombongan sering kali menyamar sebagai rasa bangga yang dianggap wajar.
Kesombongan hampir tidak pernah datang sambil berkata, “Aku lebih baik.” Ia justru datang ketika hati mulai percaya bahwa semua keberhasilan adalah hasil dirinya sendiri. Prestasi memang dapat mengangkat nama seseorang di hadapan manusia, tetapi hanya kerendahan hati yang mengangkat derajatnya di hadapan Allah. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar