Tasikmalaya Bersholawat, Bupati Cecep Ajak Warga Hidupkan Nilai Santri
- account_circle redaktur
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

Bupati Tasikmalaya, H. Cecep Nurul Yakin, Maulana Habib Luthfi bin Yahya, dan Habib Ali Zainal Abidin Assegaf pada kegiatan Tasikmalaya Bersholawat, Selasa (13/10/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AlbadarPost.com, BERITA DAERAH – Tasikmalaya Bersholawat menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026 tingkat Kabupaten Tasikmalaya di Alun-Alun Manonjaya, Selasa malam (13/10/2026). Dalam kegiatan tersebut, Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin mengajak masyarakat menghidupkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari agar identitas Kabupaten Tasikmalaya sebagai Kota Santri tidak berhenti pada sebutan.
Kegiatan tersebut dihadiri Maulana Habib Luthfi bin Yahya, Habib Ali Zainal Abidin Assegaf yang dikenal sebagai Habib Bidin Az-Zahir, serta KH. Asep A. Maoshul Affandy, pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya. Jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), alim ulama, dan masyayikh juga menghadiri acara tersebut.
Dalam sambutannya, Cecep menekankan pentingnya menghormati perjuangan para pendahulu dan menjaga warisan ilmu dari para ulama. Pesan itu menjadi salah satu pokok kegiatan yang mempertemukan tradisi keagamaan dengan peringatan Hari Santri tahun ini.
Hari Santri 2026 Diawali dengan Ziarah Ulama
Dilansir dari Pemkab Tasikmalaya, rangkaian peringatan Hari Santri tingkat kabupaten diawali dengan Jiyarotusyuyukh atau ziarah kepada para masyaikh pada Selasa, 13 Oktober 2026. Agenda tersebut menjadi bagian dari upaya mengenang jasa para ulama dan menghormati warisan keilmuan mereka.
Pada malam harinya, Tasikmalaya Bersholawat berlangsung di Alun-Alun Manonjaya. Kegiatan ini mengajak masyarakat memperbanyak selawat sekaligus mengingat peran para ulama dalam perkembangan kehidupan keagamaan di Kabupaten Tasikmalaya.
Cecep menyampaikan bahwa kehidupan masyarakat saat ini tidak terlepas dari perjuangan generasi terdahulu. Ia juga mengingatkan bahwa ilmu yang berkembang sekarang memiliki hubungan erat dengan pengajaran para ulama.
“Tidak mungkin ada ilmu kita hari ini tanpa ilmu dari para ulama yang menjadi pendahulu kita,” ungkap Cecep.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya menjaga hubungan antara generasi sekarang dan tradisi keilmuan pesantren. Selain mengenang sejarah, masyarakat dapat mengambil teladan dari perjuangan ulama dalam mendidik umat dan menyebarkan ilmu.
Bupati Cecep: Kota Santri Harus Tercermin dalam Kehidupan
Cecep berharap identitas Kabupaten Tasikmalaya sebagai Kota Santri tidak hanya menjadi sebutan. Ia mengajak masyarakat mengisi identitas tersebut dengan perilaku yang mencerminkan nilai keagamaan, penghormatan kepada ulama, serta kepedulian terhadap sesama.
“Semoga Kabupaten Tasikmalaya yang disebut Kota Santri bukan hanya sebutan saja, tapi mari kita isi dengan keberkahan,” tuturnya.
Pesan itu mengarah pada pentingnya penerapan nilai kesantrian dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat dapat memulainya melalui adab dalam menuntut ilmu, penghormatan kepada guru, kepedulian sosial, dan upaya menjaga kerukunan.
Dengan demikian, identitas Kota Santri tidak hanya berkaitan dengan keberadaan pesantren atau penyelenggaraan acara keagamaan. Nilai tersebut juga dapat terlihat dari perilaku warga dalam keluarga, lingkungan pendidikan, dan kehidupan bermasyarakat.
Peringatan Hari Santri pun menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan antara pesantren, pemerintah, dan masyarakat. Ketiganya memiliki peran dalam menjaga tradisi keilmuan sekaligus merawat kehidupan sosial yang harmonis.
Ziarah dan Selawat Mengingatkan Jasa Para Ulama
Ziarah kepada para ulama dan kegiatan bersholawat membawa pesan yang saling berkaitan, yakni mengenang jasa pendahulu serta menjaga tradisi keagamaan. Keduanya menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Kabupaten Tasikmalaya tahun ini.
Cecep menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan ikhtiar untuk menghormati para ulama yang telah mendahului generasi sekarang. Ia juga mengajak masyarakat memperbanyak selawat dan tidak melupakan jasa para pendahulu.
Bagi lingkungan pesantren, penghormatan kepada ulama berkaitan erat dengan adab dalam menuntut ilmu. Nilai tersebut juga mengingatkan generasi muda agar tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi berusaha menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, kegiatan keagamaan seperti Tasikmalaya Bersholawat dapat menjadi ruang untuk mempererat kebersamaan. Masyarakat dari berbagai lingkungan memiliki kesempatan untuk berkumpul sekaligus merawat tradisi keagamaan yang berkembang di daerahnya.
Hari Santri Bukan Sekadar Perayaan Tahunan
Peringatan Hari Santri Nasional menjadi momentum untuk mengenang peran santri dan pesantren dalam kehidupan masyarakat. Di Kabupaten Tasikmalaya, kegiatan tahun ini membawa pesan tentang penghormatan kepada ulama, pentingnya ilmu, dan pengamalan nilai keagamaan.
Tasikmalaya Bersholawat di Manonjaya kembali mengingatkan bahwa identitas Kota Santri perlu tercermin dalam kehidupan nyata. Sebuah predikat daerah akan memiliki makna lebih luas ketika nilai yang menyertainya hadir dalam perilaku masyarakat.
Gema selawat tidak berhenti ketika acara usai. Nilai kesantrian menemukan maknanya ketika penghormatan kepada ulama, adab dalam menuntut ilmu, dan kepedulian terhadap sesama terus hidup dalam keseharian masyarakat. (Red)
- Penulis: redaktur






